Kerap Meresahkan, Warga Harap Puluhan Kafe di Kolong Jembatan Cilincing Disulap Jadi Pusat Kuliner
Ketua RW 08 Kelurahan Cilincing, Yayat menuturkan, keberadaan kafe-kafe di kolong jembatan tersebut sudah sekitar 20 tahun lamanya.
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino
TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Puluhan kafe remang-remang di kolong jembatan RW 08 Kelurahan Cilincing, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, dinilai meresahkan warga.
Setiap malam, sedikitnya 24 kafe yang ada di lokasi tersebut sering menimbulkan kerumunan.
Alhasil, kebisingan dari musik-musik yang dikumandangkan dari malam hingga dini hari pun tak terhindarkan.
Tak hanya itu, pengunjung kafe-kafe tersebut juga kerap kali membuat kegaduhan.
Yang terakhir, pada Senin (22/3/2021) dini hari tadi, dua pengunjung yang masing-masing seorang anggota ormas dan oknum polisi terlibat keributan usai minum minuman keras di salah satu kafe.
Keributan serta kegaduhan yang sering timbul ini pun dikeluhkan warga.
Apalagi, kafe-kafe tersebut juga sering menjadi tempat pekerja seks komersial (PSK) menjajakan diri mereka.
Ketua RW 08 Kelurahan Cilincing, Yayat menuturkan, keberadaan kafe-kafe di kolong jembatan tersebut sudah sekitar 20 tahun lamanya.
Yayat mengakui bahwa pada kenyataannya keberadaan puluhan kafe remang-remang itu memang meresahkan.
"Kalau dibilang meresahkan ya meresahkan. Apalagi kalau kafe-kafe kayak gitu kan menjual minuman keras juga ya," kata Yayat di lokasi.
Yayat juga menyoroti keberadaan para PSK yang setiap malam mangkal di kafe-kafe tersebut.
Ia berharap, daripada dipergunakan untuk tempat maksiat, kafe-kafe tersebut sebaiknya disulap menjadi pusat kuliner.
"Ya daripada buat tempat PSK gitu, baiknya diganti ke tempat kuliner," ucapnya.
Menurut Yayat, usul terkait pengadaan pusat kuliner di lokasi yang sekarang ditempati kafe remang-remang sudah pernah diajukannya ke pemerintah setempat.
Namun, hingga kini usul tersebut belum terpenuhi.
"Ya saya berharap jadi kafe kuliner, jadi disulap dari ujung ke ujung. Ciri khas makanan yang dijual di Cilincing apa, karena kita ikan, ya ikan, sea food. Gitu sih harapan saya dan masyarakat," kata Yayat.
Baca juga: Cerita Jenderal Gondrong Kerap Hampir Kehilangan Nyawa Kala Membongkar Kasus Narkoba
Baca juga: Sudah 20 Hari Berjalan, Vaksinasi Covid-19 Guru di Tangerang Selatan Belum Rampung
Baca juga: Anies Baswedan Ungguli Ganjar Pranowo Favorit Presiden Pilihan Anak Muda, PDIP: Masih Bisa Terbalik
Puluhan kafe disegel imbas keributan
Diberitakan sebelumnya, puluhan kafe remang-remang di kawasan kolong jembatan RW 08 Kelurahan Cilincing, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, disegel.
Penyegelan ini dilakukan imbas dari adanya keributan diduga antara anggota ormas dan oknum kepolisian di salah satu kafe, Senin (22/3/2021) dini hari tadi.
Pantauan TribunJakarta.com, tim gabungan dari Tiga Pilar Kecamatan Cilincing dikerahkan dalam giat penyegelan ini.
Tim dari anggota Polsek Cilincing, Satpol PP Kecamatan Cilincing, hingga prajurit Koramil Cilincing mendatangi lokasi dan melakukan penyisiran terhadap kafe-kafe yang masih buka.
Kemudian, kafe-kafe tersebut disegel menggunakan garis polisi maupun garis kuning Satpol PP.
Terakhir, petugas juga memasang stiker penutupan sementara pada pintu masuk masing-masing kafe.
Kapolsek Cilincing Kompol Eko Setio BW mengatakan, sebelum melakukan penyegelan, pihaknya menerima laporan bahwa kafe-kafe di kolong jembatan tersebut tak mengindahkan protokol kesehatan.
Para pemilik kafe masih tetap mengoperasikan tempat usaha mereka meskipun ada pembatasan jam buka di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Imbasnya, pada dini hari tadi, dua pengunjung kafe yang masing-masing seorang anggota ormas dan oknum kepolisian sampai terlibat keributan.
Keduanya berkelahi setelah minum minuman keras di salah satu kafe bernama Kafe Stadium.
"Mereka ini bandel, karena prokes berlaku sampai pukul 21.00 WIB. Mereka ada yang curi-curi waktu," kata Eko di lokasi, Senin siang.
"Pada saat buka, namanya orang datang terjadi kesalahpahaman. Bersenggolan, akhirnya terjadi keributan," sambugnya.
Operasional puluhan kafe di kolong jembatan Cilincing yang menimbulkan keributan akhirnya dilaporkan ke polisi.
Menerima laporan, polisi langsung berkoordinasi dengan Satpol PP dan TNI guna menyegel kafe remang-remang yang menjual minuman keras dan menjajakan pekerja seks komersial (PSK).
"Langsung saya perintahkan Unit Reskrim dan Satpol PP untuk tutup kafe tersebut," kata Eko.
"Semua, jumlahnya 24 kafe. Sementara hanya kafenya saja yang ditutup, penindakan (terhadap pemilik kafe) kita belum lakukan," kata Eko.
Adapun penutupan terhadap 24 kafe remang-remang itu dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Namun, Eko menegaskan bahwa kafe-kafe tersebut harus tutup selama pandemi Covid-19 masih merebak.
"Selama pandemi saya minta tutup," tutup Eko.