Breaking News:

Subsidi Ongkir Jelang Lebaran Diharapkan Dongkrak Konsumsi Menengah Atas

Menko Airlangga mengatakan pemerintah juga akan bekerja sama dengan asosiasi, platform digital, pelaku UMKM, produsen lokal, dan para pelaku logistik

freepik
Ilustrasi belanja online 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartarto mengatakan untuk mendukung upaya peningkatan daya beli masyarakat dan pemulihan ekonomi nasional, pemerintah akan menggelar Harbolnas Ramadan yang akan diselenggarakan selama 5 hari, yaitu mulai dari H-10 sampai dengan H-6 Hari Raya Idul Fitri tahun ini.

“Pemerintah akan menyiapkan anggaran sebesar Rp 500 miliar dalam bentuk subsidi ongkos kirim dan produk yang diutamakan adalah produk-produk dalam negeri,” ujar Menko Airlangga seperti dikutip dari akun Instagram-nya @airlanggahartarto_official, Jumat (16/4/2021)

Menko Airlangga mengatakan pemerintah juga akan bekerja sama dengan asosiasi, platform digital, pelaku UMKM, produsen lokal, dan para pelaku logistik untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional. Sehingga program gratis ongkir ini menjadi pengungkit daya beli masyarakat selama masa larangan mudik atau libur lebaran.

“Dengan demikian, kita berharap di Bulan Ramadan ini terjadi peningkatan konsumsi dan membantu pemulihan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan produsen lokal,” tambahnya.

Baca juga: Kembangkan Ekonomi Kerakyatan Jatim, IKAPTK  Siap Berkolaborasi  dengan Gubernur

Baca juga: Penjualan Zalora Naik 14 Kali Lipat di 1212 Harbolnas, Ini Sederet Merek yang Banyak Diincar

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyambut baik kebijakan pemerintah terkait dengan subsidi ongkos kirim. Ia menyebut pemerintah telah mengambil langkah taktis untuk mendorong konsumsi belanja kelas menengah dan atas.

"Ini merupakan langkah taktis pemerintah untuk menyasar langsung kebutuhan masyarakat menengah dan atas yang dinilai masih menahan belanja selama pandemi," kata Huda.

Terlebih, kata Huda, secara total konsumsi rumah tangga kelompok menengah dan atas mencapai 83 persen dari total konsumsi nasional.

“Kebijakan ini perlu diapresiasi, pemerintah cukup teliti melihat peluang dengan memahami karakteristik konsumen saat ini. Dimana biasanya para konsumen membeli suatu barang melihat harga barang dan harga ongkir. Sehingga dengan diberikan subsidi ongkir, akan mempengaruhi minat konsumen untuk berbelanja,” jelasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved