Banyaknya Akses Jalan Menuju TPU Kampung Kandang, Bikin Pengurus Kecolongan
Pengurus TPU Kampung Kandang, Sobari mengatakan masih ditemukan sejumlah pengunjung yang nekat datang ke TPU Kampung Kandang untuk berziarah
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Banyaknya akses jalan alternatif menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang di Kawasan Jagakarsa, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi peluang sejumlah pengunjung untuk berziarah.
Padahal, selama libur lebaran, Pemerintah Provinsi DKI melarang masyarakat untuk berziarah ke TPU demi mencegah penularan Covid-19.
Pengurus TPU Kampung Kandang, Sobari mengatakan masih ditemukan sejumlah pengunjung yang nekat datang ke TPU Kampung Kandang untuk berziarah.
"Masih ada yang membandel. Mereka melewati pintu-pintu yang tidak diawasi atau dijaga oleh petugas," ujarnya kepada TribunJakarta.com di lokasi pada Jumat (14/5/2021).
Sobari melanjutkan TPU Kampung Kandang memiliki sejumlah jalur alternatif.
Menurutnya, ada sekitar 5 akses jalan yang menghubungkan TPU Kampung Kandang dan permukiman warga.
"Karena itu lah karena luas dan banyaknya pintu-pintu masuk TPU terkadang kami kecolongan," jelasnya.
Ia mengatakan area TPU yang luas juga menyulitkan petugas keamanan untuk berjaga.
Sekitar 10 petugas yang berjaga di TPU seluas 23 hektar.
Hafiz, petugas keamanan, sempat meminta pengunjung pergi begitu ketahuan datang berziarah.
"Jadi pengendara mobil bilang mau pulang tapi memutar lewat makam. Tapi tiba-tiba mereka turun dan berziarah ketika kami tidak lihat. Begitu ketahuan, kami langsung minta mereka untuk pulang," pungkasnya.

petugas adu mulut dengan peziarah
Sejumlah pengunjung terlihat adu mulut dengan petugas Pengamanan Dalam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang di Kawasan Jagakarsa, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Mereka ingin berziarah makam keluarga di TPU Kampung Kandang. Namun, niat mereka terhalang oleh petugas yang berjaga.
Pengamatan TribunJakarta.com, rombongan peziarah ini terdiri dari satu mobil angkot M16 dan tiga buah motor.
Rombongan keluarga yang terdiri dari sejumlah ibu, bapak, anak muda dan anak kecil ini sebagian besar mengenakan pakaian muslim.
Petugas tak memberikan izin ketika mereka hendak ziarah.
Mereka pun sempat emosi saat dilarang masuk.
Salah satu dari pengunjung itu protes kepada petugas lantaran mereka melihat sebelumnya ada yang sempat berziarah.
Petugas pun menjelaskan kepada mereka bahwa pihaknya sempat kecolongan saat tengah berjaga di makam itu.
Hafiz, salah satu petugas kemudian datang mencoba menengahi ketegangan antara rekannya dan pengunjung itu.
"Ini kebijakan pemerintah DKI di lapangan. Saya harap di sini enggak ada kompromi lagi. Kalau situ mau kukuh ziarah. Tanggal 17 besok," ujar Hafiz kepada sejumlah pengunjung itu.
"Bukan gitu, tapi bapak saya baru meninggal," ujar salah satu peziarah itu.
Hafiz pun kembali menerangkan kepada pengunjung itu.
"Saya paham, tapi kita kan mengikuti peraturan yang ada. Saya kerja di sini ibaratnya juga nyari pahala. Kerja untuk anak dan istri tolong hargai pekerjaan saya," jelasnya lagi.
Baca juga: Kapolresta Tangerang Awasi Pelaksanaan Protokol Kesehatan di Kawasan Wisata Pantai Tanjung Kait
Baca juga: Libur Lebaran, Warga Bekasi Berwisata ke Gedung Juang Tambun
Baca juga: Sanksi Putar Balik Kendaraan Pemudik Bakal Diperpanjang Hingga 24 Mei 2021
Meski sudah diberi pengertian, mereka tetap enggan pergi dari TPU Kampung Kandang.
Salah satu pengunjung itu tetap meminta untuk berziarah makam. Namun, ia hanya meminta perwakilan saja dari mereka.
"Berarti tiga orang aja bang," ujarnya.
Hafiz akhirnya melunak dengan mengizinkan tiga orang saja yang boleh berziarah.
"Oke, tiga orang tapi enggak boleh lebih ya. Yang lain jangan turun tetap di dalam mobil," tambahnya.
Kepada TribunJakarta.com, Hafiz menjelaskan bahwa rombongan pengunjung itu tetap ngotot meski sudah dilarang petugas secara baik-baik.
Ia mengakui bahwa saat ini Pemerintah Provinsi DKI melarang warganya untuk berziarah.
Namun, petugas tak bisa bertindak kaku lantaran takut memicu bentrokan.
"Mungkin karena jauh, sayang-sayang mereka kemari buang-buang waktu, capek, panas ternyata enggak bisa. Siapa yang enggak emosi nanti?" katanya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk mengizinkan tiga orang perwakilan dari rombongan untuk ziarah makam.
"Kita kasih kebijakan kompromi, dari pihak penanggung jawab. Ada sekitar 20 orang tadi, kita kasih izin 3 orang yang boleh," lanjutnya.
Nyatanya, mereka yang diizinkan berziarah lebih dari tiga orang. Terlihat lima orang dari mereka mengendarai dua motor ke tempat makam yang dituju.
Imbauan agar rombongan lain tetap di mobil juga tak diindahkan. Beberapa dari mereka bahkan berjalan-jalan ke sekeliling taman makam.