Breaking News:

Angka Kesakitan DBD di Kelurahan Setu Tertinggi di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur

Puskesmas Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur mencatat penambahan kasus penyakit demam berdarah dengeu (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.

Penulis: Bima Putra | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kepala Puskesmas Kecamatan Cipayung Rini Muharni saat memberi keterangan terkait kasus DBD di Jakarta Timur, Minggu (23/5/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Puskesmas Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur mencatat penambahan kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.

Meski tidak merinci total kasus DBD, Kepala Puskesmas Kecamatan Cipayung Rini Muharni mengatakan berdasar data incindence rate (IR) atau angka kesakitan terjadi penambahan kasus DBD.

"Kalau kita (Puskesmas) menghitung melalui IR, bukan jumlah kasus. Kemarin itu yang laju kecepatan IR-nya tinggi Kelurahan Setu, Cilangkap, Ceger," kata Rini di Jakarta Timur, Minggu (23/5/2021).

Baca juga: KPAD Kota Bekasi Khawatir Muncul Trauma Baru Pada Korban Persetubuhan Anak Anggota DPRD

Dia menjelaskan tingginya laju kecepatan IR bukan berarti jumlah kasus pada satu wilayah paling banyak karena dihitung dengan membandingkan jumlah penduduk dalam satu wilayah permukiman.

Laju kecepatan IR ini dihitung setiap tiga pekan sekali, pada pekan lalu kecepatan IR DBD di Kecamatan Cipayung sempat menjadi yang tertinggi di antara 10 Kecamatan se-Jakarta Timur.

"Misalnya Lubang Buaya jumlah kasus 10, tapi karena jumlah penduduk banyak IR-nya bisa lebih rendah daripada yang kasusnya tinggi tapi jumlah penduduknya sedikit," ujarnya.

Rini menuturkan bila terdapat dua kasus DBD dalam satu Kelurahan yang penduduknya paling sedikit maka pada data laju kecepatan IR DBD di Kelurahan tersebut bisa jadi paling tinggi.

Baca juga: Anak Anggota DPRD Kota Bekasi Tersangka Persetubuhan Disebut Punya Niat Nikahi Korban

Guna mencegah penularan DBD pihaknya mengimbau warga menggalakan program juru pemantau jentik (Jumantik) mandiri dalam satu rumah yang bertugas melakukan 3M mencegah DBD.

Yakni menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas, dan menutup tempat penampungan air di sekitar rumah yang berpotensi digunakan nyamuk aedes aegypti berkembang biak.

Baca juga: Sopir Taksi Ditemukan Tewas Tergeletak di Kontrakan Mampang, Diduga Sakit

"Dan kita juga enggak bisa mengharapkan ibu-ibu kader Jumantik terus. Okelah kalau pas datang (melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk) bagus, tapi kan kalau enggak dibersihkan selalu ternyata terlewat," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved