Peredaran Tembakau Sintetis Sangat Laris, Polisi: Pengguna Banyak Mahasiswa
Kasat Resnarkoba Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Wadi Sabani mengatakan, peredaran narkotika jenis tembakau sintetis sangat laris di pasaran.
Penulis: Annas Furqon Hakim | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim
TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Kasat Resnarkoba Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Wadi Sabani mengatakan, peredaran narkotika jenis tembakau sintetis sangat laris di pasaran.
Ia menyebut para pengguna tembakau sintetis kini didominasi oleh kalangan muda.
"Peredaran khusus (tembakau) sintetis ini sangat laris sekali," kata Wadi kepada wartawan, Sabtu (29/5/2021).
Baca juga: Polres Jaksel Sita 600 Paket Tembakau Sintetis Senilai Rp 500 Juta, Ini Efeknya Bagi Pemakai
Lebih lanjut, Wadi mengungkapkan tembakau sintetis banyak diedarkan melalui media sosial.
Penjual dan pembelinya tidak harus bertemu untuk melakukan transaksi barang haram tersebut.
"Tidak saling bertemu, tidak saling mengenal. Kemudian cara penawaran dia menggunakan akun-akun yang anonim. Penggunanya rata-rata anak muda, sekitar umur 20 tahunan. Anak-anak mahasiswa banyak," ungkap Wadi.
Produksi tembakau sintetis yang diracik menggunakan bahan-bahan mengandung zat kimia juga dipelajari lewat media sosial.
"Termasuk yang produksi ini juga dia belajar meraciknya itu dia juga sama dari salah satu medsos. Atasannya dia yang suplai bibit sintetisnya. Saking rapinya seperti itu," tutur Wadi.
Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Azis Andriansyah mengatakan, sindikat narkoba jenis tembakau sintetis sudah beroperasi selama satu tahun.
Baca juga: Polres Jaksel Tangkap 4 Sindikat Narkoba di Pandeglang, 600 Paket Tembakau Sintetis Disita
Tersangka meracik tembakau sintetis di sebuah rumah kontrakan di Pandeglang, Kabupaten Tangerang, Banten.
Selama satu tahun belakangan ini, jelas Azis, sindikat narkoba ini telah meraup keuntungan puluhan juta Rupiah.
"Selama satu tahun membuat atau meracik tembakau sintetis sebanyak 1 Kg dan kemudian menjual kembali sebanyak 2 Kg," kata Azis saat merilis kasus ini di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Jumat (28/5/2021).
Dari pengakuan tersangka, sebanyak 80 orang sudah memesan tembakau sintetis hasil racikannya.
"Tersangka menjual narkotika tersebut ke wilayah Provinsi DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan Kepulauan Seribu," ungkap Azis.
Kapolres mengatakan, tembakau sintetis itu dijual melalui situs jual beli online dan media sosial.
"Cara penjualannya sebagian dijual dari media sosial, sebagian melalui aplikasi penjualan online," kata Azis.
Salah satu tersangka berinisial AM mengaku memiliki nama sendiri untuk tembakau sintetis yang dijualnya secara online.
"(Sebutannya) KKS, Krakatau Steel," kata AM.
Tidak ada alasan khusus bagi AM dalam menamakan tembakau sintetis tersebut.
"Karena tertarik saja," ujar dia.
Keempat tersangka yang diringkus polisi adalah KRP, IA, AM, dan AH. Mereka ditangkap di Kabupaten Tangerang, Banten.
Dua dari empat tersangka, yaitu AM dan AH, merupakan produsen yang meracik tembakau sintetis di sebuah kontrakan di Pandeglang, Banten.
Dari tangan para tersangka, polisi menyita ratusan paket tembakau sintetis siap edar.
"Total barang buktinya sebanyak kurang lebih 600 paket atau sekitar 6 Kg atau 6.000 gram," kata Azis.
Azis menjelaskan, tersangka menjual tembakau sintetis tersebut dengan berbagai paket. Mulai dari 5 gram hingga 100 gram.
"Ada sebutannya paket 5R itu 5 gram itu Rp 450 ribu. Kemudian paket 10R Rp 800 ribu, paket 25R Rp 1,75 juta paket 50R Rp 3 juta dan paket 100R Rp 5,5 juta," ungkap dia.
"Dari hasil temuan tersebut, jika dikalkulasi dengan angka nominal, bisa mencapai Rp 500 juta lebih," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/pabrik-tembakau-sintetis-rumahan-di-pandeglang.jpg)