Anggota Komisi X DPR: Survei Lingkungan Belajar Harus Sesuai Karakter Indonesia dan Kearifan Lokal

sebaiknya dalam survei tersebut dimasukkan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan ke-Indonesia-an serta kesepahaman atas kearifan lokal yang ada.

Editor: Wahyu Aji
Kompas.com/Kontributor Nunukan, Sukoco
ILUSTRASI Seorang guru mengajar di sebuah SD di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Desain Survei Lingkungan Belajar (DSLB) dalam Asesmen Nasional (AN) untuk para guru dan kepala sekoah menuai polemik.

Pasalnya, dalam survei yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset, Teknologi (Kemendikbudristek) tersebut ada pertanyaan bermuatan SARA.

Anggota Komisi X DPR Fraksi Demokrat Debby Kurniawan menilai, Desain Survei Lingkungan Belajar (DSLB) dalam Asesmen Nasional (AN), khususunya terhadap Kepala Sekolah dan Guru sangat tendensius.

“Kami mengingatkan Kemdikbudristek agar membuat survei yang tidak bersifat tendensius kepada guru dan kepala sekolah,” kata Debby Kurniawan kepada wartawan, Selasa (27/7/2021).

Debby mengatakan, sebaiknya dalam survei tersebut dimasukkan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan ke-Indonesia-an serta kesepahaman atas kearifan lokal yang ada.

Sehingga, bisa berkontribusi menciptakan harmoni dalam proses belajar-mengajar.

“Kami sangat menyayangkan variabel-variabel dan pertanyaan dalam survei untuk guru dan kepala sekolah ini,” ujarnya.

Menurut dia, pertanyaan dan variabel dalam survei lingkungan belajar untuk guru dan kepala sekolah tersebut harus dicabut dan dievaluasi.

Sebab bisa menjadi pelunturan atas karakter bangsa.

Ia menyebut, beberapa pertanyaan yang terkesan tidak relevan, sementara evaluasi terhadap mutu pendidikan haruslah berifat holistik dengan mengedepankan pendidikan karakter yang bercirikan karakter religius, cinta kebersihan dan lingkungan, jujur (dalam kata dan perbutan), peduli serta cinta Tanah Air.

“Assessment nasional melalui survei lingkungan belajar ini terobosan yang baik. Tapi harus ada pedoman dalam pelaksanaannya. Agar bisa memecahkan permasalahan perbedaan dengan cara damai dan tidak mencari kambing hitam atas perbedaan. Dan berpijak pada kesepahaman atas kearifan lokal, sehingga karakter menutup diri, mengasingkan diri, saling mencerca atas perbedaan tidak ada dalam lingkungan sekolah," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved