Breaking News:

JakTour Pecat Karyawan Tersangka Kasus Korupsi yang Ditangani Kejati

JakTour mengapresiasi keseriusan Kejati DKI dalam mengusut kasus tersebut.

Editor: Kurniawati Hasjanah
TRIBUNNEWSBOGOR/MOHAMAD AFKAR SARFIKA
JakTour Pecat Karyawan Tersangka Kasus Korupsi yang Ditangani Kejati 

TRIBUNJAKARTA.COM - PT Jakarta Tourisindo (JakTour) telah memecat karyawannya yang terjerat kasus dugaan korupsi di Grand Cempaka Resort sebagaimana diungkapkan Kejati DKI

JakTour mengapresiasi keseriusan Kejati DKI dalam mengusut kasus tersebut.

Kasus dugaan korupsi di Grand Cempaka Resort berawal dari hasil audit di tahun 2015.

Ada indikasi terjadinya penyalahgunaan dana yang menyebabkan kerugian negara pada tahun 2014-2015.

Karyawan yang terjerat kasus tersebut sudah diberhentikan sejak 2017.

Baca juga: Pria 20 Tahun Diserang Gerombolan Pemuda di Jalan Antasari Jakarta Selatan, Korban Sempat Kritis

"Pada prinsipnya, kami tidak menoleransi adanya tindak pidana korupsi di internal perusahaan, sehingga perusahaan tidak segan untuk mengakhiri hubungan kerja jika karyawan terbukti bersalah dalam kasus tindak pidana korupsi. Kami menghormati dan mengikuti proses hukum yang berlaku," kata Corporate Secretary PT Jakarta Tourisindo, A.T Erik Triadi, dalam keterangan tertulis, Kamis (29/7/2021).

JakTour menegaskan selalu menjalankan prinsip tata kelola yang baik dalam bisnisnya.

JakTour juga menegaskan selalu patuh dan berada dalam koridor serta aturan hukum.

Sebelumnya, Kejati DKI Jakarta menetapkan 2 tersangka terkait kasus korupsi penyalahgunaan keuangan PT Jakarta Tourisindo (BUMD DKI Jakarta). Dua tersangka tersebut tidak ditahan.

Penetapan tersangka ini merupakan hasil pengembangan penyidikan perkara tindak pidana korupsi penyalahgunaan keuangan yang berasal dari pembayaran jasa perhotelan instansi pemerintah pada Grand Cempaka Resort & Convention, unit usaha PT Jakarta Tourisindo (BUMD) Provinsi DKI Jakarta dengan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Nomor Print: 298/M.1/Fd.1/01/2020 tanggal 31 Januari 2020 atas nama tersangka Irfan Sudrajat.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 di Stasiun MRT Blok A Tersedia Hingga 31 Juli 2021

"Ditemukan alat bukti yang cukup untuk menetapkan tersangka baru yaitu saudara RI (selaku General Manager) dan saudara SY (selaku Chief Accounting) sebagai pelaku peserta," kata Kasipenkum Kejati DKI Jakarta, Ashari Syam.

Ashari mengatakan penyidik menilai kedua tersangka tidak ditahan karena mengaku siap bersikap kooperatif.

"Atas pertimbangan tim penyidik, maka kedua tersangka tersebut tidak dilakukan penahanan. Di antaranya karena alasan kedua tersangka tersebut dinilai cukup kooperatif dalam menjalani proses penyidikan selama ini," ujarnya.

Ashari mengatakan perbuatan para tersangka dilakukan setidak-tidaknya sejak 2014 hingga Juni 2015. Perbuatannya itu menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 5.194.790.618.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved