Breaking News:

Virus Corona di Indonesia

Pengadilan Negeri Tangerang Vonis 7 WNA India yang Kabur Karantina Cuma 5 Bulan Penjara

(PN) Tangerang kembali menggelar sidang kepada tujuh warga negara asing (WNA) asal India yang melanggaran undang-undang kekarantinaan.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFEDA
Para WNA India yang diperiksa oleh petugas Kejaksaan Negeri Kota Tangerang karena melanggar peraturan kekarantinaan di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (31/8/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Pengadilan Negeri (PN) Tangerang kembali menggelar sidang kepada tujuh warga negara asing (WNA) asal India yang melanggaran undang-undang kekarantinaan.

Diberitakan jauh hari, terdapat tujuh WNA India dan tujuh warga negara indonesia (WNI) yang tidak mengikuti karantina setibanya di Bandara Soekarno-Hatta dari luar negeri.

Agenda sidang tertutup tersebut membacakan putusan terhadap 14 terdakwa pada Jumat (24/9/2021) malam.

Kepala Seksie Pidana Umum (Kasie Pidum) Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Dapot Dariarma mengatakan, hasil putusannya ke-14 terdakwa divonis lima bulan penjara.

"Masa percobaannya 10 bulan, dengan dengan denda delapan orang Rp 25 juta, dan sisa terdakwa dengan denda Rp 10 juta," jelas Dapot saat dihubungi, Sabtu (25/9/2021).

Menurut Dapot, putusan tersebut tidak sesuai dengan keinginan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dimana, pihaknya menuntut semua terdakwa maksimal satu tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

"Selaku jaksa penuntut umum, kita mengajukan pikir-pikir dulu untuk perkara ini," sambung Dapot.

Sebagai informasi, jaksa penuntut umum menyangkakan 14 terdakwa dengan Pasal 93 Jo Pasal 9 ayat (1) UU No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, dengan ancaman hukuman satu tahun penjara.

Sebelumnya diberitakan, Pengadilan Negeri (PN) Kota Tangerang menggelar sidang perdana 14 terdakwa kasus Joki Kekarantinaan Kesehatan di Bandara Soekarno Hatta yang melibatkan warga negara asing (WNA) asal India, Jumat (10/9/2021).

Namun, acara persidangan tidak sesuai usulan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tangerang dengan metode APS.

Dimana, persidangan dilakukan dalam satu hari mulai dari pemeriksaan terdakwa sampai putusan hakim.

Pasalnya, Majelis Hakim PN Kota Tangerang yang dipimpin Roedy dengan hakim anggota Bestman dan Edy Toto, mengabulkan permintaan kuasa hukum para terdakwa untuk pledoi secara tertulis.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved