Didesak Mundur Pasca-Insiden Banting Mahasiswa di Tangerang, Kapolres: Jabatan Adalah Amanah

anyak pihak yang mendesak Wahyu untuk mundur dari jabatannya sebagai Kapolresta Tangerang.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA
Kapolresta Tangerang Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro saat ditemui awak media di Mapolresta Tangerang, Selasa (27/4/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Banyak pihak yang meminta Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro untuk mundur dari jabatannya pasca-aksi banting mahasiswa yang dilakukan bawahannya, Brigadir NP pada Rabu (13/10/2021).

Seperti diketahui, Brigadir NP membanting seorang mahasiswa bernama M Fariz saat sedang melakukan unjuk rasa di Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang kemarin lusa.

Alhasil, Fariz sempat kejang-kejang usai dibanting dan sampai saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Ciputra Hospital, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang.

Dari kejadian tersebut, banyak pihak yang mendesak Wahyu untuk mundur dari jabatannya sebagai Kapolresta Tangerang.

"Saya pejabat publik dan jabatan adalah amanah, kami punya atasan dan kami melaksanakan tugas berdasarkan perintah dari pimpinan. Dan amanah jabatan dari Gusti Allah SWT," kata Wahyu dalam pesan singkat, Jumat (15/10/2021).

Desakan Mundur

Sebelumnya, Direktur Riset Setara Institute, Halili Hasan, mengatakan, Kapolresta Wahyu harus mundur dari jabatannya.

Menurutnya, sanksi terhadap atasan langsung dari oknum polisi tersebut dapat menjadi efek jera bagi pimpinan polisi lainnya.

"Jika perlu copot dari jabatan agar menjadi preseden dan efek jera bagi pimpinan-pimpinan kepolisian daerah yang tidak tegas mendisiplinkan anggota-anggotanya dalam bertugas," ucap Halili.

Lebih lanjut, Halili mendorong agar kasus ini tidak selesai hanya dengan adanya video klarifikasi yang menunjukkan korban masih dalam keadaan sehat.

Baca juga: Polisi yang Banting Mahasiswa di Tangerang Diperiksa Propam Polda Banten

Ia menilai model penyelesaian seperti itu rentan di rekayasa dan penuh tekanan, serta tidak akan menyelesaikan masalah.

Aksi Fariz dibanting Brigadir NP itu terekam dalam video singkat dan viral di media sosial.

Dalam video tersebut, Fariz dipiting lehernya lalu digiring oleh NP.

Setelah itu, NP membanting korban ke trotoar hingga terdengar suara benturan yang cukup keras.

Tangkapan layar video berdurasi 48 detik menunjukan arogansi anggota Polresta Tangerang membanting mahasiswa
Tangkapan layar video berdurasi 48 detik menunjukan arogansi anggota Polresta Tangerang membanting mahasiswa (Istimewa)

Kondisi Mengkhawatirkan

M Fariz, mahasiswa korban banting ala smackdown oleh kepolisian Polresta Tangerang pun kondisinya semakin mengkhawatirkan.

Dari rekaman suara, Fariz menerangkan kondisi terkininya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Ciputra, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang.

Dirinya diketahui sudah menginap sejak Kamis (14/10/2021) malam.

"Pundak, leher kayak enggak bisa digerakin, sama kepala agak kliyengan," kata Fariz melalui rekaman suara yang diterima TribunJakarta.com, Jumat (15/10/2021).

Bukan hanya itu saja, dirinya yang tampak terbaring di kasur rumah sakit juga mengalami kesulitan bernapas.

"Sama tadi pagi sedikit muntah-muntah sama engap," sambung Fariz.

M Fariz mahasiswa korban banting Brigadir NP anggota Polresta Tangerang yang dirawat di Rumah Sakit Ciputra Hospital, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang karena kondisinya yang memburuk, Kamis (14/10/2021).
M Fariz mahasiswa korban banting Brigadir NP anggota Polresta Tangerang yang dirawat di Rumah Sakit Ciputra Hospital, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang karena kondisinya yang memburuk, Kamis (14/10/2021). (ISTIMEWA)

Fariz sendiri merupakan korban dari Brigadir NP yang saat itu tiba-tiba saja membantingnya kala pengamanan unjuk rasa di depan Gedung Pemkab Tangerang, Rabu (13/10/2021).

Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar mengatakan, Fariz saat ini harus rawat inap di rumah sakit tersebut.

Maksudnya untuk mempersiapkan diri menjalani general check up.

"Dia harus rawat inap untuk persiapan general check-up. Nanti akan jalani pemeriksaan, salah satunya ada cek darah juga," ujar Zaki.

Sementara itu, sebelum dilakukan pemeriksaan di Ciputra Hospital, Fariz juga dilakukan cek kesehatan dan kondisinya di Rumah Sakit Harapan Mulya, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.

Penjelasan Tim Dokter

Dijelaskan, Komite Medik Rumah Sakit Harapan Mulya, dr Effie Koesnandar, berdasarkan hasil pemeriksaan, nyeri atau pusing yang dialami Fariz juga bisa disebabkan oleh komorbid.

"Jadi ternyata dia (Fariz) ini ada komorbidnya, dan sedang menjalani pengobatan juga. Dan gejala yang dirasanya kini sama dengan gejala komorbidnya. Tapi, untuk memastikan lebih jelas, kita minta untuk general check up," jelasnya.

Lanjut dia, memang ditubuh korban terdapat memar dibagian leher dan pundak, yang diduga itu muncul pasca kekerasan yang dialaminya oleh brigadir NP.

"Ada memar di lehernya, pundak juga, dan untuk memastikan secara detail, harus general check up," jelas Effie.

Fariz sendiri sebelumnya telah menjalani pemeriksaan dan dinyatakan baik.

Dimana tidak ada keretakan atau faktur, usai dibanting oleh brigadir NP.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved