Selain Covid-19, TBC dan Stunting Juga 'Menghantui' Kota Tangerang

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraeni mengatakan, kasus TBC di Kota Tangerang masih terus terjadi meski angkanya di bawah rata-rata.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Acos aka Abdul Qodir
Bet_Noire
Ilustrasi tuberculosis (TBC) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Kasus Tuberkulosis atau TBC dan stunting menjadi dua penyakit yang 'menghantui' Kota Tangerang sepanjang 2021.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraeni mengatakan, kasus TBC di Kota Tangerang masih terus terjadi meski angkanya di bawah rata-rata.

"Menurut data yang kamu miliki, Kota Tangerang perbandingannya itu 172 orang per 100 ribu penduduk atau setara dengan 3.043 kasus," jelas Dini kepada wartawan, Sabtu (13/11/2021).

"Serta ditemukan 11 angka kematian pada saat tengah melakukan proses pengobatan," sambungnya.

Angka kasus stunting di Kota Tangerang juga masih di bawah rata-rata Provinsi Banten.

"Kota kita termasuk di bawah nasional dan provinsi. Kalau Provinsi Banten 24 persen, kami 16,8 persen. Tapi, kami tetap coba turunkan menjadi 14 persen," aku Dini.

Baca juga: Waspada! Kasus DBD di Jaksel Meningkat, Sebanyak 424 Warga Sudah Terjangkit

Bersamaan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-57, Dinas Kesehatan (Dinkes) meluncurkan dua program untuk menekan angka Tuberkulosis dan stunting di Kota Tangerang.

Pertama, program 5.000 Kader Aksi Skrining Mandiri (Asmara) TBC berbasis masyarakat dan aplikasi Tatalaksana Gizi Buruk Agar Segera Pulih atau Laksa Gurih, yang berbasis website untuk pencegahan stunting pada anak. 

Kedua program itu telah diluncurkan oleh Wali Kota Tangerang AriefR Wismansyah di Gedung Sport Center Grand Duta, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang pada Jumat (12/11/2021) kemarin.

Baca juga: Beri Semangat, Wali Kota Depok Sebut Angka Kematian TBC Lebih Tinggi Dibanding Corona

Baca juga: Cara Mencegah Stunting dan Penyebabnya pada Anak, Orangtua Patut Tahu!

"Untuk Laksa Gurih itu aplikasi berbasis website yang nantinya akan menjadi data kita dalam memberantas stunting atau gizi buruk di Kota Tangerang," jelas Dini.

Dini menambahkan, Dinas Kesehatan juga bekerja sama dengan Dinas Perhubungan untuk penyedian moda transportasi bagi pasien penyakit diabetes yang hendak melakukan pemeriksaan lanjutan dari puskesmas ke RSUD Kota Tangerang.

"Selama 30 hari bus Jawara akan melayanin pasien diabetes di puskesmas untuk dibawa ke RSUD. Di sana akan dilakukan pemeriksaan seperti rontgen, karena biasanya penderita diabetes rentan terkena TB. Tentu, semua layanan ini gratis," ujar Dini.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved