Breaking News:

Pedagang Pasar Cibubur Tolak Larangan Jual Minyak Goreng Curah: Masyarakat Kecil Membutuhkan

Menurut Sony (45), satu pedagang minyak goreng curah di Pasar Cibubur, Jakarta Timur, hingga kini minyak goreng curah masih dibutuhkan.

Penulis: Bima Putra | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Bima Putra / Tribun Jakarta
Penjual minyak goreng curah di Pasar Cibubur, Kecamatan Ciracas saat mengemas barang, Jakarta Timur, Kamis (25/11/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Keputusan pemerintah melarang penjualan minyak goreng curah mulai 1 Januari 2022 karena alasan harganya terlalu bergantung pada harga sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) mendapat penolakan.

Menurut Sony (45), satu pedagang minyak goreng curah di Pasar Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, hingga kini minyak goreng curah masih dibutuhkan warga.

"Masyarakat kecil seperti pedagang gorengan dan lainnya masih membutuhkan harga yang murah. Sementara harga minyak kemasan naik," kata Sony di Jakarta Timur, Kamis (25/11/2021).

Menurutnya, bila penjualan minyak goreng curah dilarang sepatutnya pemerintah lebih dulu menurunkan harga minyak goreng kemasan yang dalam satu bulan terakhir melonjak.

Dalam satu bulan terakhir saja harga minyak goreng curah melonjak dari Rp 15 ribu per kilogram menjadi Rp 20 ribu, sementara kemasan dari Rp 15 ribu menjadi Rp 23 ribu per kilogram.

"Selisih harga minyak goreng curah dan kemasan ini buat warga kecil terasa besar. Sebelum dilarang saja harga warga dan pedagang sudah susah, apalagi kalau dilarang nanti," ujarnya.

Sony menuturkan dengan dilarangnya penjualan minyak goreng curah warga tidak memiliki pilihan membeli barang yang lebih murah, hanya minyak goreng kemasan saja.

Tampak minyak goreng curah yang dijual di lapak pedagang Pasar Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (25/11/2021).
Tampak minyak goreng curah yang dijual di lapak pedagang Pasar Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (25/11/2021). (Bima Putra / Tribun Jakarta)

Baca juga: Ada 2 Demo Besar di Jakarta, Dirlantas Polda Metro: Hindari Jalan-Jalan Ini

Dia berharap pemerintah mempertimbangkan kebijakan larangan minyak goreng curah, terlebih saat sektor perekonomian belum pulih akibat terdampak pandemi Covid-19.

"Selama saya dagang ini kenaikan harga minyak goreng paling parah, lebih dari Rp 20 ribu per kilogram. Dulu pas lebaran saja harganya paling tinggi hanya Rp 16 ribu per kilogram," tuturnya.

Misna (50), satu pedagang gorengan di wilayah Kecamatan Ciracas juga mengeluhkan kenaikan harga minyak goreng kemasan yang hingga kini belum menunjukkan tanda segera berakhir.

Pasalnya sudah satu bulan terakhir sejak minyak goreng curah langka di pasaran dia terpaksa beralih menggunakan minyak goreng kemasan, dampaknya omzet dagang pun berkurang.

"Kalau harga gorengan enggak naik. Tapi keuntungan berkurang sekitar 20 persen. Harapannya ya kalau minyak goreng curah enggak ada lagi yang kemasan harganya murah," kata Misna.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved