Nestapa Warga Pluit Krisis Air Bertahun-tahun, Air Hujan dan Banjir Rob Dimanfaatkan untuk Cuci Baju

Selama berpuluh-puluh tahun, warga RW 022 Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mengalami krisis air bersih.

TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Puluhan warga RW 022, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara menggeruduk kantor Gubernur Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/2/2022). Massa menutut pelayanan air minum. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Selama berpuluh-puluh tahun, warga RW 022 Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mengalami krisis air bersih.

Jangankan untuk air minum, air untuk mencuci dan memasak pun didapat mereka dengan cara membeli.

Nurweni (32), warga Blok Eceng RT 12 RW 022 Kelurahan Pluit mengatakan hidupnya sudah berdampingan dengan kondisi ini.

Pasalnya, sejak tahun 1980-an, belum pernah ada layanan air minum gratis dari Pemprov DKI Jakarta, kecuali satu titik kios air yang dibangun pada tahun 2020 di kampung Blok Eceng dan berbayar.

"Sebenarnya semenjak saya lahir karena pernah dengar masuk di daerah Muara Angke. Cuma saat ini udah banyak yang mati pipanya," katanya di depan Kantor Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Selasa (22/2/2022).

Baca juga: Anies Didesak Segera Cari Solusi Krisis Air Bersih di Jakut, Warga: Masa Kami Dipaksa Kaya Pak!

Ibu tiga anak ini menuturkan untuk keperluan air minum, ia harus membeli dengan harga Rp 5 ribu perjeriken.

Semantara dalam satu hari ia membutuhkan tiga jeriken.

Perwakilan Pemprov DKI Jakarta menemui puluhan warga RW 022, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yang berunjuk rasa di kantor Gubernur Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/2/2022). Massa menutut pelayanan air minum.
Perwakilan Pemprov DKI Jakarta menemui puluhan warga RW 022, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yang berunjuk rasa di kantor Gubernur Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/2/2022). Massa menutut pelayanan air minum. (TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Tentunya hal ini belum termasuk untuk keperluan memasak, mandi dan sebagainya, mereka harus membeli lagi.

"Kami tinggal di daerah bantaran Kali Adem. Kami juga kan memang susah harus beli pikulan."

"Perpikul Rp 5 ribu. Satu hari Rp 15 ribu kali 30 (hari). Itu mandi aja. Airnya aja bisa Rp 500 ribu, belum air galonnya," ungkapnya.

Mayoritas warga yang merupakan nelayan tradisional seperti nelayan tangjap, nelayan pengolah dan pedagang ikan.

Pengeluaran untuk membeli air ini dirasa memberatkan ekonomi mereka.

Baca juga: Anies Didesak Segera Cari Solusi Krisis Air Bersih di Jakut, Warga: Masa Kami Dipaksa Kaya Pak!

Sehingga satu-satunya solusi untuk menghemat pengeluaran, yakni dengan mengandalkan hujan dan banjir rob untuk sekedar mencuci baju.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved