Terungkap Siasat Airlangga Manfaatkan Pesona Airin Rachmi Diany di DKI, Modal 2024 Perlu Dikerek

Pertemuan NasDem Tower, Kamis (10/3/2022), antara jajaran DPP partai Golkar dan DPP Partai NasDem merebakkan isu koalisi Pilkada DKI 2024.

Tribun Jakarta
Kolase foto Airin Rachmi Diany dan Airlangga Hartarto. 

Terlalu Dini untuk Pasangan

Namun, menurut Yusfitriadi, hari ini, terlalu dini untuk membentuk pasangan calon Pilkada DKI 2024.

Pasalnya, Yusfitriadi memaparkan, basis ambang batas parlemen untuk Pilkada 2024 adalah Pileg 2024.

Maka, peta politiknya belum terlihat sama sekali.

"Dalam ancangan tahapan itu, pengumuman hasil suara baru akan diketahui Juli 20924, nah sedangkan pendaftaran calon dimulai Agustus 2024."

"Ada waktu satu bulan untuk membangun dinamika koalisi. Itupun akan menjadi pertimbangan di mana terlalu dini kalau kemudian hari ini sudah memasang pasangan calon," kata Yusfitriadi.

Namun menurutnya, pertemuan politik itu bukan untuk meresmikan pasangan Sahroni-Airin, melainkan menaikkan untuk kebutuhan citra personal.

Baca juga: Pamer Kursi Gerindra, Taufik Gerah Airin Direbut Nasdem Buat Sahroni: Sangat Mungkin Ariza & Airin

"Tapi ketika itu untuk kepentingan branding personal bukan branding pasangan, itu penting, karena dialektika politik tidak bisa diraih dengan cara instan. Dialektika politik, elektabilitas, popularitas, maupun kualitas harus diraih dengan proses yang cukup panjang," ujarnya.

Siasat Ekor Jas Airin untuk Airlangga

Dari pengamatannya, Yusfitriadi membaca motif pertemuan NasDem Tower dengan menyorot sosok Airin dan Sahroni yang tengah hangat di isu DKI adalah siasat Airlangga.

Airlangga Hartarto yang sudah diusung partainya untuk bertarung di Pilpres 2024 membutuhkan modal elektabilitas besar.

Namun sampai saat ini, nama sang Ketum tidak pernah menyeruak pada jajaran nama capres potensial 2024, setidaknya di lima besar.

Pertemuan NasDem Tower Rabu (10/3/2022).
Pertemuan NasDem Tower Rabu (10/3/2022). (Golkar)

Airlangga ingin memanfaatkan pesona Airin yang menjadi rebutan di isu Pilkada DKI demi mengerek elektabilitasnya sendiri.

Hal itu karib disebut dengan efek ekor jas atau coattail effect di dalam dunia politik.

"Sangat mungkin misalnya motif sekarang mengangkat Airin bagaimana agar elektabilitas Airlangga naik, kan sangat mungkin. Karena sampai saat ini Airlangga bergerak ke manapun elektabillitasnya tetap satu koma," ujar Yusfitriadi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved