Ramadan 2022

Mana yang Lebih Baik, Salat Tarawih 11 atau 23 Rakaat? Berikut Penjelasannya

Mana yang lebih baik, Salat Tarawih 11 atau 23 rakaat? Berikut penjelasannya.

Editor: Muji Lestari
Tribun-Video.com
Ilustrasi salat 

TRIBUNJAKARTA.COM - Mana yang lebih baik Salat Tarawih 11 atau 23 rakaat? Berikut penjelasannya.

Saat ini umat muslim tengah menjalani ibadah puasa Ramadan 1443 Hijriah.

Selama bulan Ramadan, ada ibadah khusus yang dilakukan setelah Isya, yakni salat tarawih.

Baca juga: Jelang Ramadan 1443 H, Ini Bacaan Niat dan Tata Cara Salat Tarawih Lengkap Dengan Doa Kamilin

Diketahui, Salat Tarawih merupakan salah satu amalan yang bisa dilakukan selama Ramadan.

Hal tersebut sebagaimana tertulis dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah mengenai dasar hukum Salat Tarawih.

"Rasulullah saw menggemarkan agar menghidupkan bulan Ramadhan bukan dengan perintah wajib lalu Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menghidupkan bulan Ramadhan atas dasar iman yang teguh karena Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (H.R.Muslim).

Baca juga: H-1 Puasa, Ini Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sebelum Ramadan, Lengkap dalam Bahasa Arab dan Artinya

Pada Ramadhan tahun ini, ibadah shalat tarawih kembali bisa dilaksanakan berjemaah di masjid meski masih berada di tengah pandemi corona.

“Setelah shalat tarawih yang sudah dua tahun ini dibatasi ketat, saya kira ini kabar gembira bagi yang mau menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih,” ucap Wakil Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Prof Syamsul Bakri dilansir Kompas.com, Kamis (31/3/2022).

Jumlah Rakaat Salat Tarawih

Dalam pelaksanaannya, sebagian umat Islam melaksanakan ibadah Salat Tarawih 11 rakaat, sementara lainnya 23 rakaat.

Menurut Syamsul, perbedaan jumlah rakaat tersebut tidak menimbulkan masalah, keduanya sama-sama boleh dilakukan.

"Semuanya tidak masalah, sama-sama baiknya," jelasnya.

“Dan semua memiliki dasar,” katanya lagi.

Baca juga: Ini Jadwal Imsakiyah Ramadan 1443 H untuk Wilayah Bekasi, Lengkap Dengan Waktu Salat dan Buka Puasa

Landasan Salat Tarawih

Berikut landasan hukum menunaikan ibadah Salat Tarawih baik 11 rakaat maupun 23 rakaat:

1. Salat Tarawih 11 rakaat

Adapun landasan hukum Salat Tarawih 11 rakaat didasarkan oleh beberapa hadis nabi.

"Aku berdiri di samping Rasulullah; kemudian Rasulullah meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan dipegangnya telinga kananku dan ditelitinya, lalu Rasulullah shalat dua rekaat kemudian dua rekaat lagi, lalu dua rakaat lagi, dan kemudian dua rekaat, selanjutnya Rasulullah shalat witir, kemudian Rasulullah tiduran menyamping sampai bilal menyerukan adzan. Maka bangunlah Rasulullah dan shalat dua rekaat singkat-singkat, kemudian pergi melaksanakan shalat subuh," (HR. Muslim)

Kedua, hadis yang diriwayatkan dari Abu Salamah:

"Diriwayatkan dari Abu Salamah Ibn ‘Abdul Rahman bahwa Abu Salamah bertanya kepada Aisyah r.a bagaimana cara shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Aisyah menjawab "Baik di bulan Ramadhan ataupun di luar bulan Ramadhan, Rasulullah saw selalu melakukan shalat (malam) tidak lebih dari sebelas rakaat. Rasulullah melaksanakan shalat empat rakaat; dan jangan ditanyakan tentang baik dan panjangnya shalat yang beliau lakukan. Kemudian shalat lagi empat rekaat, dan jangan ditanyakan tentang baik dan panjangnya shalat yang beliau lakukan. Lalu beliau shalat (witir) tiga rakaat," (HR Bukhari).

2. Salat Tarawih 23 rakaat

Pelaksanaan Salat Tarawih 23 rakaat memiliki 3 landasan utama sebagaimana disampaikan oleh Syamsul.

Landasan pelaksanaan Salat Tarawih 23 tersebut di antaranya:

- Hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah shalat tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 rakaat. (HR Baihaqi dan Thabrani).

- Hadis yang diriwayat oleh Ibnu Hajar, "Rasulullah shalat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di suatu malam Ramadhan."

- Menurut sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab menyelenggarakan shalat tarawih dan witir 23 rakaat sebagaimana dilihat di kitab al-Muwaththa’ Yazid bin Huzaifah yang berkata: "Kaum muslimin pada masa Umar bin Khattab melakukan shalat tarawih (dan witir) di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat."

Keduanya tak jadi masalah

Menurut Syamsul, perbedaan pelaksanaan Salat Tarawih tidak perlu diperdebatkan.

Sebab, keduanya sama-sama memiliki dasar hukumnya masing-masing.

“Karena kalau perdebatan berarti menganggap diri kita benar dan yang lain salah,” kata Syamsul.

Alih-alih memperdebatkan jumlah rakaat dalam ibadah Salat Tarawih yang dinilainya tidak efektif, Syamsul justru menyoroti geliat masyarakat untuk Salat Tarawih yang cenderung menurun di minggu ketiga dan keempat Ramadan.

“Banyak masjid-masjid yang sepi jamaah terutama di minggu ketiga dan keempat. Maka perdebatan shalat tarawih dan witir 11 rakaat atau 23 menjadi tidak efektif,” ujar Syamsul.

“Yang penting adalah bagaimana umat Islam rajin tarawih di masjid-masjid itu sudah luar biasa, dari sisi ibadah mahdloh maupun dakwah,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved