Ayah Kandung Diduga Aniaya 2 Anaknya di Tanjung Duren, Dipicu Masalah Klasik

Seorang ayah diduga menganiaya dua anak hingga mengalami luka-luka. Aksi KDRT tersebut terjadi di kawasan Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat.

Tribunjakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Pihak Binmas, RT dan RW menggelar Mediasi kepada pasangan suami istri yang terlibat keributan di Tanjung Duren Selatan 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, GROGOL PETAMBURAN - Seorang ayah kandung diduga menganiaya dua anaknya hingga mengalami luka-luka.

Aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tersebut terjadi di kawasan Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Kedua anak itu bernama MRI(16) dan MA (14). Kasus ini kemudian sampai masuk ke kepolisian.

Polisi telah melakukan visum kepada dua anak itu.

"Kita sudah lakukan visum kepada dua anaknya yang diduga telah dianiaya oleh ayahnya sendiri," kata Kanit Reskrim Polsek Cengkareng, Iptu Tri Baskoro pada Senin (23/5/2022).

Kejadian itu, lanjut polisi, berawal dari keributan rumah tangga antara ESS dengan istrinya, N.

Baca juga: 2 Remaja Dianiaya Ayah Kandung di Tanjung Duren, Aksi Pelaku Tak Berhenti Meski Korban Minta Ampun

Petugas Binmas, ketua RT dan RW pun sampai memediasi pasutri tersebut.

Mereka sempat akur, tetapi malah kembali ribut.

Adu mulut itu berdampak kepada dua anaknya, MRI dan MA.

Baca juga: Ajakannya Nikahnya Ditolak, Pria di Lamongan Nekat Aniaya Selingkuhan

Mereka diduga menjadi korban penganiayaan ayahnya.

"Awalnya ribut masalah keluarga. Enggak ada laporan karena sudah dimediasi pihak RT dan RW. Kemudian ada informasi telah terjadi penganiayaan langsung kita arahkan korban untuk membuat laporan yang didampingi keluarga," lanjutnya.

Ditemui terpisah, Binmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Aiptu Nardi mengatakan pihaknya sudah memediasi pasutri itu.

Nardi mengatakan penganiayaan suami kepada istrinya terakhir terjadi pada 17 Mei 2022 silam.

"Sempat akur tuh, nah pas enggak lama ditinggal, itu malem malem katanya ribut lagi," tambahnya.

Pemicu keributan itu, lanjut Nardi, karena masalah ekonomi.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved