Bikin Merinding, Ada Sesi Workshop dan Analisa Foto Hantu Acara Komunitas Ini Meski Digelar di Mal
Bertajuk 'Ghost in The Lens', acara ini membuat bulu kuduk pengunjungnya merinding.
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Acos Abdul Qodir
Kata Gilang, semua berawal saat dirinya masih duduk di kursi SMK.
Saat itu, terjadi kesurupan massal di sekolahnya.
Baca juga: Bentuk Komunitas Pembatik Cilik, YPA-MDR Tingkatkan Kecakapan Hidup Siswa-siswi Binaan
Gilang malah berkenalan dengan seorang bocah tak kasat mata yang disebutnya berasal dari era kolonial.
"Pertama itu pas masih SMK. Kemudian seiring berjalannya waktu ada dua lagi teman khayalan saya. Satu cowok dan dua cewek," tutur Gilang.
Disampaikan Gilang, ketiga teman tak kasat matanya itu berasal dari luar negeri.
"Semua bule, yang cowok itu yang paling nakal usianya 9 tahun.
Dia itu katanya meninggalnya ketembak. Terus yang dua lainnya itu cewek usia 8 tahun dan ada yang lebih dewasa," paparnya.
"Jadi memang semua bule dan hidup pada masa penjajahan," sambungnya
Kendati tiga teman khayalannya saat ini berasal dari luar negeri, Gilang menuturkan dirinya juga pernah berteman dengan hantu lokal, dalam hal ini kuntilanak.
Uniknya, kata Gilang, kuntilanak tersebut menggunakan bahasa Sunda saat berkenalan dan berkomunikasi dengannya.
"Waktu itu Gilang pernah temenan sama kuntilanak dan asik banget diajak cerita," tutur Gilang.
Baca juga: Warga Sepuh Mengungkap Kisah yang Bikin Merinding di Gudang Timur VOC: Lihat Sosok Ini
Dijelaskan Gilang, awal perkenalannya dengan sang kuntilanak berbahasa Sunda itu juga unik.
Kuntilanak Sunda itu menempat rumah kosong yang berada di depan rumah Gilang.
"Nah tiap keluar malam naik motor, kuntilanak ini nyautin "Euy bada kamana". Dia pakai bahasa Sunda," kata Gilang.
Saat itu, Gilang sudah tahu bahwa yang mengajaknya bicara itu adalah makhluk tak kasat mata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/komunitas-fotografi-hantumenggelar-event-berbau-horor-di-mal-fx-sudirman.jpg)