Cerita Kriminal

Tak Tega Lihat Kondisi Pelaku, Korban Pencurian Motor di Pos Jaga UI Akhirnya Cabut Laporan Polisi

Polsek Beji mengembalikan sepeda motor hasil kasus pencurian terhadap pemiliknya, pada Kamis (16/6/2022) malam.

Istimewa
Kepolisian Sektor Beji mengembalikan motor hasil kasus pencurian terhadap pemiliknya, pada Kamis (16/6/2022) malam. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, BEJI - Polsek Beji mengembalikan sepeda motor hasil kasus pencurian terhadap pemiliknya, pada Kamis (16/6/2022) malam.

Kanit Reskrim Polsek Beji, AKP Hakim Dalimunthe, mengatakan, korban atas nama Budhi Prasetyo telah mencabut laporannya musabab tak tega terhadap pelaku yang tuna rungu dan bisu.

"Korban kasihan melihat pelaku kondisinya begitu. Ia minta dicabut saja laporannya yang penting motornya sudah balik," kata Hakim dikonfirmasi wartawan, Jumat (17/6/2022).

Hakim menegaskan, pengembalian motor ini dipastikan gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun.

"Tanpa pungutan, kami kasih saja. Jadi gak sampai ke pengadilan, dia (korban) pun gak mau repot ke pengadilan," tuturnya.

Baca juga: Maling Motor di Koja Beraksi Sehabis Hujan, Terekam CCTV Gasak Honda Beat dari Depan Rumah Warga

Diwartakan sebelumnya, Unit Reskrim Polsek Beji berhasil mengamankan seorang pelaku pencurian kendaraan bermotor berinisial A yang beraksi pada di Pos Penjagaan Peron Kampus UI, Beji, Kota Depok, pada Kamis (2/6/2022).

Hakim Dalimunthe mengatakan, modus yang digunakan pelaku adalah dengan masuk ke Pos Penjagaan Peron saat korban tengah tertidur.

"Pelaku masuk ke dalam Pos Peron Kampus UI Depok pada saat anggota security dalam keadaan tertidur, lalu mengambil kunci motor dan helm milik korban lalu mengambil motor korban," katanya.

Baca juga: Dipergoki saat Berkasi, Maling Motor di Cikarang Lepas Tembakan ke Arah Korban

Lanjut Hakim, korban pun melaporkan peristiwa tersebut dan pihaknya menggelar penyelidikan hingga akhirnya pelaku berhasil diamankan tiga hari kemudian, pada Minggu (5/6/2022) lalu.

Ketika diperiksa, ternyata pelaku tidak bisa mendengar atau pun berbicara (tuna rungu dan bisu).

"Pelaku tidak bisa mendengar dan berbicara, kendalanya ya itu jadi sulit untuk berkomunikasi," jelasnya.

"Pelaku juga tidak mengerti bahasa isyarat, tidak ada tanda pengenal. Bahkan ketika dilakukan identifikasi sidik jadi tidak ada identitasnya," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved