HUT ke 495 Kota Jakarta

IPM DKI Lebih Tinggi Dibanding Nasional, Ketua Forum Warga Jakarta Soroti Indikatornya

BPS mencatat bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) DKI Jakarta pada tahun 2021 melampaui capaian nasional. Pada 2022 IPM DKI mencapai 81,12 persen.

Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Ketua Forum Warga Kota Jakarta, Azas Tigor Nainggolan - BPS mencatat bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) DKI Jakarta pada tahun 2021 melampaui capaian nasional. Pada 2022 IPM DKI mencapai 81,12 persen. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta pada tahun 2021 lalu melampaui capaian nasional.

Tercatat pada 2022 IPM DKI Jakarta mencapai 81,12 persen.

Angka tersebut tumbuh 0,42 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara IPM nasional sendiri, angkanya sebesar 72,29 persen pada tahun 2021 lalu.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Warga Kota Jakarta, Azas Tigor Nainggolan, mempertanyakan indikator yang digunakan untuk menyatakan bahwa IPM DKI Jakarta lebih tinggi dibanding nasional.

"Iya kalau dari sisi pembangunannya mungkin memang bisa tinggi, kenapa saya katakan demikian, karena APBD DKI juga yang paling tinggi di tingkat nasional," kata Azas saat dijumpai TribunJakarta, Rabu (22/6/2022).

Baca juga: Anies Boleh Saja Banggakan Infrastruktur, Data BPS Tunjukkan Angka Kemiskinan di Jakarta Terus Naik

"Tinggal persoalannya adalah seberapa besar pemerataan APBD itu sendiri, nah pemerataannya itu perlu juga dipertanyakan," sambungnya lagi.

Selain itu, Azas juga mempertanyakan soal penyerapan anggaran dari APBD DKI Jakarta.

Pengamat dari Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan, saat memaparkan catatan akhir tahun 2018 terkait kinerja Anies, Kamis (10/1/2019).
Pengamat dari Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan, saat memaparkan catatan akhir tahun 2018 terkait kinerja Anies, Kamis (10/1/2019). (TribunJakarta/Pebby Ade Liana)

"Kemudian adalah penyerapannya, berapa persen dia. Kalau penyerapannya kan rata-rata masih dibawah 60 persen. Juga pemerataannya seberapa baik, apakah bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat atau tidak," tuturnya.

"Jadi menurut saya IPMnya mungkin tinggi, tapi saya gak tahu dia pakai indikator apa, mungkin pakai dari sisi pembangunannya. Tapi pemerataannya bagaimana, itu yang perlu dilihat lagi," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved