Camat Sebut Pola Perilaku Warga Jadi Penyebab Tingginya Kasus DBD di Cilandak

Camat Cilandak, Djaharuddin, membeberkan penyebab tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya.

Tribunnews
Ilustrasi nyamuk demam berdarah. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, CILANDAK - Camat Cilandak, Djaharuddin, membeberkan penyebab tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya.

Ia mengatakan, masih banyak warga yang belum menerapkan metode pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri.

Djaharuddin meminta warga untuk menjadi juru pemantau jentik (jumantik) mandiri atau self jumantik.

"Masalah pola perilaku warga yang masih belum berubah, harusnya kan self jumantik," kata Djaharuddin saat dikonfirmasi, Rabu (27/7/2022).

"Menyelenggarakan pemantauan sendiri. Ini yang terus kami imbau kepada warga, minimal di dalam rumah sendiri," tambahnya.

Baca juga: Antisipasi DBD, Ketua TP PKK Jakut Imbau Warga Jadi Jumantik Mandiri di Rumah Masing-masing

Selain itu, Djaharuddin mengungkapkan, masih banyaknya lahan kosong di Cilandak juga menjadi salah satu penyebab tingginya kasus DBD.

"Masalahnya kita tidak tahu lahan itu milik siapa, kita tidak bisa asal masuk, harus ada izinnya kan," ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, wilayah Pondok Labu, Cilandak,  menjadi kelurahan dengan angka penyebaran kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di Jakarta Selatan.

Selama enam bulan sejak Januari hingga Juni 2022, sebanyak 52 orang di kelurahan Pondok Labu terjangkit penyakit DBD.

Djaharuddin mengatakan puluhan kasus DBD itu terdiri dari balita hingga orang dewasa.

"Kalau ditotal itu ada 52 kasus DBD di Kelurahan Pondok Labu. Itu data enam bulan terakhir dari Januari sampai Juni 2022. Tertinggi untuk tingkat kelurahan di Jakarta Selatan," kata Djaharuddin, Kamis (7/7/2022).

Namun demikian, Djaharuddin menyebut sebagian besar warga Pondok Labu yang sempat terjangkit DBD sudah dinyatakan sembuh.

"Sebenarnya sudah sembuh semua. Tapi datanya dibuat per kasus seperti model Covid-19. Sekarang kita antisipasi agar tidak ada kasus lagi," ujar dia.

Ia menjelaskan, salah satu upaya antisipasi yang dilakukan yaitu dengan menggelar lomba bebas jentik di seluruh kelurahan di Kecamatan Cilandak.

Adapun total kasus DBD di Jakarta Selatan saat ini mencapai angka 884. Jumlahnya meningkat dibandingkan periode Januari-Mei 2022 yang mencapai 727 kasus.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved