Penghapusan Syarat Tes Antigen, Jumlah Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Tidak Berkurang

Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta tidak berkurang setelah aturan penghapusan syarat tes antigen untuk rute penerbangan domestik.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Ega Alfreda/TribunJakarta.com
Executive General Manager (EGM) Bandara Soekarno-Hatta, Agus Haryadi saat ditemui di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (17/8/2022). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta tidak berkurang setelah aturan penghapusan syarat tes antigen untuk rute penerbangan domestik.

Sebagimana diketahui, pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) di Bandara Soekarno-Hatta yang belum menerima vaksinasi dosis ketiga alias booster wajib menyertakan surat negatif Covid-19 dari metode RT-PCR.

Sebab, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 merilis aturan baru mengenai Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri pada Masa Pandemi Covid-19.

Hal itu tercantum dalam Surat Edaran (SE) Nomor 23 Tahun 2022 yang mulai berlaku Kamis, 11 Agustus 2022 sampai waktu yang belum ditentukan.

Di dalam SE di atas, PPDN yang belum vaksin booster wajib menyertakan surat negatif Covid-19 dari metode RT-PCR.

Baca juga: Wajib Booster atau PCR, Penumpang Domestik Bawa Antigen di Bandara Soekarno-Hatta Bakal Ditolak

Sepekan ketentuan tersebut diberlakukan, Executive General Manager (EGM) Bandara Soekarno-Hatta, Agus Haryadi mengaku tidak berpengaruh kepada jumlah penumpang.

"Kalau jumlah penumpang relatif sejak tanggal 11 Agustus ini stabil tidak berpengaruh. Tidak berpengaruh ke jumlah penumpang stabil-stabil saja," papar Agus di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (17/8/2022).

Ia menerangkan, sejak diberlakukannya SE 23 tahun 2022 itu, rata-rata jumlah penumpang di bandar udara terbesar di Indonesia itu 120 perharinya.

"Penumpang kita masih cukup bagus di range 120 ribuan setiap harinya, hari ini di Terminal 2 ini 42 ribu, di Terminal 3 itu sedikit lebih tinggi 53 ribuan," ungkap Agus.

Agus Haryadi mengatakan, untuk PPDN yang sudah booster dibebaskan terbang tanpa harus antigen atau RT-PCR.

"Jadi sejak tanggal 11 Agustus 2022 sudah terbit SE 23 tahun 2022," kata Agus di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (17/8/2022).

"Intinya adalah antigen ini tidak lagi dijadikan lagi syarat, jadi yang berlaku hanya PCR," sambungnya.

Executive General Manager (EGM) Bandara Soekarno-Hatta, Agus Haryadi saat ditemui di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (17/8/2022).
Executive General Manager (EGM) Bandara Soekarno-Hatta, Agus Haryadi saat ditemui di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (17/8/2022). (Ega Alfreda/TribunJakarta.com)

Dalam artian, PPDN yang membawa surat Antigen akan ditolak terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, apa bila belum vaksinasi booster.

Pengambilan sampel dari RT-PCR pun maksimal dilaksanakan 3x24 jam sebelum hari keberangkatan.

"Secara umum ketentuan yang berlaku di SE 23 sama dengan yang berlaku sebelumnya. Yang berbeda adalah hanya menghapuskan ketentuan dari antigen. Jadi sekarang persyaratan terbang bagi calon penumpang kalau dosis dua kali itu wajib PCR," papar Agus.

Beberapa maskapai di Bandara Soekarno-Hatta pun sudah meminta calon penumpangnya untuk menerapkan SE 23 sejak beberapa hari ke belakang.

Seperti Lion Air Group yang sudah menerapkan wajib RT-PCR bagi calon penumpangnya yang baru mendapatkan dosis 1 dan 2 Covid-19.

"Vaksin ketiga (booster) tidak perlu menunjukkan hasil negatif screening Covid-19," papar Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro dalam keterangannya.

"Vaksin kedua dan pertama wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR 3x24 jam," tambah dia.

Bagi calon penumpang yang tidak atu belum divaksin dengan alasan medis wajib menunjukkan surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah dan hasil negatif tes RT-PCR 3x24 jam.

Untuk informasi tambahan, aturan di atas hanya berlaku untuk calon penumpang yang berusia di atas 18 tahun.

Usia di bawah 18 tahun

Sementara itu, ada aturan yang berbeda antara PPDN usia dewasa (di atas 18 tahun) dengan kategori anak (di bawah 18 tahun).

Namun, kategori anak ini berlaku pada usia 6-17 tahun. Berikut ini aturannya:

1. PPDN kategori anak yang sudah mendapatkan vaksinasi kedua, tidak wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR atau rapid tes antigen.

2. PPDN kategori anak yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama:

• Wajib menunjukkan hasil negatif rapid test antigen yang sampelnya diambil dalam 1x24 jam, atau

• Wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR yang sampelnya diambil dalam 3x24 jam sebelum keberangkatan.

3. PPDN kategori anak yang berasal dari perjalanan luar negeri dan belum mendapatkann vaksin:

• Dikecualikan terhadap kewajiban menunjukkan kartu vaksinasi

• Wajib menunjukkan hasil negatif rapid test antigen yang diambil 1x24 jam, atau

• Hasil negatif tes RT-PCR yang sampelnya diambil 3x24 jam sebelum keberangkatan.

4. PPDN kategori anak yang tidak dapat menerima vaksinasi, maka ketentuannya:

• Wajib menunjukkan hasil negatif rapid test antigen yang diambil 1x24 jam, atau

• Wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR yang diambil 3x24 jam sebelum keberangkatan

• Wajib melampirkan surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah yang menyatakan bahwa yang bersangkutan belum dan/atau tidak dapat mengikuti vaksinasi Covid-19.

Usia di bawah 6 tahun

Sementara itu, untuk PPDN dengan usia di bawah 6 tahun, aturan perjalanannya adalah  sebagai berikut:

• Dikecualikan terhadap syarat vaksinasi

• Tidak wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR atau rapid tes antigen

• Wajib melakukan perjalanan dengan pendamping yang telah memenuhi ketentuan vaksinasi dan pemeriksaan Covid-19 serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved