Pengelola Dinilai Gagal Urus TMII, Pekerja Minta Pesangon Segera Dibayarkan

Para karyawan hanya menuntut pesangon yang rata-rata sudah bekerja selama 25 tahun lebih tapi tidak kunjung dicairkan.

Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Suasana di TMII, Jakarta Timur yang telah dibuka kembali dengan sejumlah persyaratan seperti menunjukkan bukti vaksin dan khusus kegiatan outdoor, Jumat (20/8/2021) 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Adanya kabar puluhan orang pekerja Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang belum dibayarkan oleh pengelola barunya yakni PT TWC mendapatkan perhatian Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Tri Sasono.

Diketahui, sebanyak 30 orang pekerja TMII  belum mendapatkan haknya dari PT TWC sampai bulan Oktober 2022.

Para karyawan hanya menuntut pesangon yang rata-rata sudah bekerja selama 25 tahun lebih tapi tidak kunjung dicairkan.

Selain itu, karyawan lama banyak dilepas jabatannya diganti orang BUMN yang tidak kompeten dan tak mengerti mengelola TMII.

“Pesangon tidak pernah dibayar oleh TWC sejak Maret 2022 sampai sekarang. Bahkan, tidak pernah ada tanggapan dari EVP TMII,” kata Tri dikutip dari Warta Kota.

Bukan cuma soal pesangon saja, Tri mengungkap ada kegagalan dalam mengelola TMII sejak diambil alih oleh TWC tersebut.

Baca juga: Menteri Pratikno Ungkap Revitalisasi TMII Bakal Selesai Sebelum Akhir Tahun

Ia melihat TWC memang tidak kapabel untuk mengelola TMII. Sehingga, alangkah baiknya pengelolaan dikembalikan lagi kepada swasta.

Tri menilai pengambilalihan TMII oleh pemerintah tujuannya untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik.

Suasana revitalisasi di TMII untuk mendukung G20, Rabu (26/1/2022)
Suasana revitalisasi di TMII untuk mendukung G20, Rabu (26/1/2022) (TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Tapi ternyata, setelah hampir 8 bulan justru jadi berantakan semua diberikan kepada pihak TWC.

“TMII juga tengah dilakukan penataan ulang kayaknya cuma alasan klise saja, karena memang TWC tidak profesional mengelola TMII,” jelas dia.

Harusnya, kata Tri, pengelolaan TMII dilakukan melalui tender bukan ditunjuk langsung kepada TWC.

Sehingga, swasta bisa ikut melakukan tender pengelolaan TMII agar nantinya pengelolaan TMII akan jauh lebih profesional.

“Karena setelah renovasi Rp1,3 triliun tidak ada hasil signifikan, bahkan tercium indikasi ada kerugian negara dari hasil renovasi seadanya."

"Banyak aset-aset TMII peninggalan yang dijual obral, padahal aset-aset tersebut sangat bernilai jika dikelola TMII,” ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved