Jelang Anas Urbaningrum Bebas, Loyalis dan Jubir Demokrat Saling Tantang, Ada Apa?

Kubu loyalis Anas Urbaningrum dan pengurus Partai Demokrat saling tantang jelang kebebasan mantan ketua umum partai berlambang Mercy tersebut.

Kolase Foto TribunJakarta
Kolase Foto Muhammad Rahmad, Anas Urbaningrum dan Herzaky Mahendra Putra. Kubu loyalis Anas Urbaningrum dan pengurus Partai Demokrat saling tantang jelang kebebasan mantan ketua umum partai berlambang Mercy tersebut. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kubu loyalis Anas Urbaningrum dan pengurus Partai Demokrat saling tantang jelang kebebasan mantan ketua umum partai berlambang Mercy tersebut.

Anas Urbaningrum dijadwalkan bebas dari Lapas Sukamiskin Bandung pada 10 April 2023.

Jelang kebebasan tersebut, adu argumen terjadi antara Sahabat Anas Urbaningrum dengan Partai Demokrat.

Apalagi, Anas Urbaningrum sempat menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2010-2015.

Anas ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas dugaan gratifikasi dalam proyek Hambalang pada 22 Februari 2013.

Saling Tantang

Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum, Muhammad Rahmad menantang Partai Demokrat untuk debat secara terbuka terkait tudingan sejarah kelam.

Muhammad Rahmad menyanggah tudingan Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra yang menyebutkan Anas Urbaningrum sebagai sejarah kelam Demokrat.

Baca juga: Bantah Herzaky Mahendra, Sahabat Anas Urbaningrum Sebut Demokrat Kelam Ketika Dipimpin SBY dan AHY

Muhammad Rahmad menilai Herzaky Mahendra Putra sebagai anak kemarin sore.

"Herzaky Mahendra Putra adalah anak kemaren sore yang arogan dan angkuh. Ia juga tidak tahu cara membaca data dan melihat fakta di dalam Partai Demokrat," Muhammad Rahmd dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Senin (3/4/2023).

Menurut Wakil Direktur Eksekutif DPP Partai Demokrat tahun 2011-2012 tersebut, sejarah kelam Demokrat justru terjadi ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan anak-anaknya membawa Partai Demokrat yang awalnya sangat demokratis, merakyat, dan milik rakyat, kini berubah menjadi partai tirani keluargais, otoriter, sewenang-wenang dan pura pura merakyat.

Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum, Muhammad Rahmad
Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum, Muhammad Rahmad memberikan tanggapan atas pernyataan Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra.

"Sejarah kelam kedua adalah Perolehan suara pemilu dan kursi DPR RI terendah sepanjang sejarah Demokrat, terjadi ketika SBY menjadi Ketua Umum dan ketika AHY dan Ibas (keduanya anak SBY) diserahi tugas memenangkan pemilu," katanya.

Sejarah kelam ketiga, kata dia, ketika SBY mengaku sebagai pendiri partai demokrat dan mendaftarkannya ke Kemenkumham secara diam-diam.

Selanjutnya, menurut Rahmad, sejarah kelam keempat Partai Demokrat terjadi ketika AD/ART Partai Demokrat tahun 2020 dibuat kroni-kroni SBY dan AHY menjadi Partai anti-Demokrasi yang pura-pura demokratis.

"Jika publik mau membuktikan, saya tantang Partai Demokrat AHY debat terbuka untuk membuktikan bahwa sejarah kelam itu terjadi dimasa siapa? Masa Anas atau masa SBY dan AHY," katanya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved