Baju Hasil Daur Ulang Limbah Tekstil dan Bahan Bekas Dipamerkan di JF3 Tangerang, Keren dan Modis!
Ajang Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) hari ketiga kembali membawa tema menarik dalam memamerkan karya-karya anak bangsa.
TRIBUNJAKARTA.COM - Ajang Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) hari ketiga kembali membawa tema menarik dalam memamerkan karya-karya anak bangsa.
Mendaur ulang bahan atau kain bekas dibawakan langsung oleh desainer lokal di JF3.
Sebab, limbah atau sampah fashion, berupa kain, nyatanya menjadi ancaman bagi lingkungan.
Limbah fabrik dari industri tekstil yang memproduksi berbagai model pakaian terus berganti secara cepat.
Mulai dari trend fashion atau pun pakaian yang kualitasnya buruk sehingga tidak tahan lama atau masuk dalam istilah fast fashion.
Baca juga: Bantah Main Slot, Alasan Anggota DPRD DKI Cinta Mega Pilih Main Game Online saat Tunggu Rapat: Bosan
Limbah kain atau pakaian ini juga muncul akibat adanya kebiasaan masyarakat yang konsumtif.
Secara tidak sadar bila banyak pakaian menumpuk hingga menciptakan limbah.
Fakta di atas menjadi perhatian para desainer asal Indonesia yang sadar akan ancaman limbah pakaian, yang bisa membahayakan kelestarian lingkungan.
Baca juga: Kecelakaan Hari Ini di Karangasem Bali: Hantam Keras Truk, Mercy SLC 43 yang Dikemudikan WNA Hancur
Alhasil, untuk mengurangi limbah pakaian, banyak designer yang memanfaatkan limbah pakaian menjadi pakaian layak pakai yang fashionable.
Seperti Evi Natalia, salah satu desainer yang menyulap limbah pakaian menjadi produk yang fashionable dengan harga jual yang tinggi.
Bahkan, pakaian dari limbah itu, turut memiliki nilai jual yang tinggi di dunia fashion.
"Kami sadar akan bahayanya limbah pakaian, bahkan dari beberapa riset kami, limbah pakaian ini cukup banyak setelah plastik. Melihat kondisi itu, kami pun melakukan upaya untuk bisa menguranginya dengan mendaur ulang limbah menjadi pakaian yang fashionable," ujar dia dalam acata JF3 2023 di Summarecon Mall Serpong, Rabu (19/7/2023).
Baca juga: 3 Foto Remuknya Fortuner Maut di Plumpang, Dugaan Melaju Super Kencang sampai Terguling Berkali-kali
Menurutnya, proses mendaur ulang limbah pakaian menjadi barang dengan nilai jual tinggi itu, memerlukan beberapa tahapan.
Mulai dari proses sortir, pembersihan, hingga akhirnya diproduksi menjadi pakaian.
"Saat kita terima limbahnya, tidak serta merta langsung diproduksi jadi baju. Tapi, ada beberapa tahapan, mulai dari sortir. Pada tahapan ini, kita pilih pakaian yang masih layak untuk dibentuk menjadi pakaian lagi," ujar Evi.
Baca juga: Kecelakaan Maut Fortuner di Tol Plumpang: Remaja 19 Tahun Ngebut Hilang Kendali, 3 Penumpang Tewas
"Setelahnya kita masuk ke proses pembersihan, baru akhirnya kita buat menjadi baju dengan design-design yang menarik, tentunya ikut trend fashion terkini," sambung dia.
Dalam proses pembuatan pakaian, Evi menyebutkan bila mereka menggunakan teknik Boro Sashiko.
Dimana, teknik asal Jepang ini menggabungkan potongan kain menjadi satu, dengan proses menjahit yang dilakukan tanpa putus atau berkelanjuta.
Sebagai informasi, Boro adalah kelanjutan dari proses sashiko yang dijahit kembali secara berkala.
Sedangkan Sashiko adalah sebuah jahitan yang membentuk pola.
Teknik yang ada sebelum abda ke-20 ini pun, meruoakan cara nenek moyang di negeri sakura, untuk menambal kain yang sudah rusak, dengan kain lainnya sehingga.
"Kalau zaman dulu, membeli pakaian baru ini merupakan hal yang sulit karena faktor ekonomi. Jadi, kalau pakaian rusak, seperti bolong ya ditambal, hingga muncul teknik Boro Sashiko. Dan kami, melihat teknik ini sebagai salah satu cara mendaur ulang limbah pakaian menjadi produk baru yang fashionable," ujarnya.
Bahkan, dengan karya tersebut, Evi bersama dengan designer lainnya, yakni Afif Musthapa pun mampu memamerkannya dalam ajang JF3 Fashion Festival 2023, yang diadakan di Tangerang.
Dengan mengusung tema REBOOT REUSE by Setali Indonesia and Control New, kedua designer itu menghadirkan 30 karya fashion yang terbuat dari limbah.
"Kita membawakan 30 pakaian yang dibuat dari limbah pakaian. Design yang hadir pun kita ikuti sesuai dengan trend fashion saat ini, seperti outwear, jaket. Lalu, ada aksesoris, seperti topi, hingga tas," katanya.
Adanya event JF3 ini pun, ia berharap menjadi salah satu wadah para designer untuk bisa memperluas karya mereka.
Terlebih bagi dirinya yang mampu mempromosikan produk mereka yang terbuat dari limbah.
"JF3 2023 ini tentunya wadah bagi kami, dan untuk saya sendiri menjadi kesempatan untuk bisa mempromosikan produk kita yang terbuat dari limbah tapi tetap mengikuti tren fashion saat ini," ungkapnya.
Sebagai informasi, tahun 2023 menjadi pertama kalinya JF3 digelar di luar Jakarta.
JF3 di Summarecon Mall Serpong (SMS) berlangsung lebih dulu dari 17-19 Juli.
Sedangkan di Kelapa Gading nanti berlangsung 21-26 Juli melibatkan total 59 desainer terkemuka.
Ada pun yang unik pada gelaran JF3 di Kabupaten Tangerang ini, catwalk dibuat unik tanpa panggung.
Bahkan, catwalk diadakan di parkiran mobil SMS menggunakan karpet merah.
Treshia Mareta selaku Advisor JF3 mengatakan, terdapat hal yang berbeda dari JF3 2023 di Summarecon Mall Serpong ini.
Hal tersebut bertujuan agar tema yang diusung kali ini yakni Power to Empower di mana akan menonjolkan fashion yang dipamerkan oleh model saat catwalk.
"Sehingga menstimulasi kreator kita agar mempresentasikan lebih menarik, ini penting agar bagaimana audiens ini tertarik melihat kita," ujar Treshia di SMS.
"Ini jadi satu pemikiran juga karena fashion show adalah entertainment, bisnisnya nanti, audiensnya tertarik baru terjadi," sambung dia.
Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Baju-hasil-desainer-yang-menyulap-limbah-pakaian.jpg)