El Nino Bikin Pusing Petani Rorotan, Padi Baru Ditanam 9 Hari Langsung Mati Gegara Kekeringan

Kekeringan yang terjadi di sawah Rorotan tak terlepas dari kondisi alamiah pada tahun ini, di mana musim kemarau diperparah dengan adanya fenomena El

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Acos Abdul Qodir
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Ketua Gabungan Kelompok Tani Maju Rorotan Sirojuddin Abas menceritakan dampak kemarau dan El Nino terhadap sawah di Rorotan, Jakarta Utara.  

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Fenomena El Nino yang terjadi berbarengan dengan musim kemarau membawa dampak signifikan bagi para petani di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Minimnya air hujan serta saluran irigasi yang tak teraliri air dengan baik membuat lahan yang baru ditanami padi kekeringan.

Kami sedang berusaha cari sumber air, karena ini padi kan memang tidak bisa lepas dari air

Ketua Gabungan Kelompok Tani Maju Rorotan Sirojuddin Abas menuturkan, akibat dari kemarau ditambah El Nino ini, dirinya pusing melihat proses penanaman padi menjadi sangat terkendala.

"Ada dampak di pertanian kita, salah satunya lahan yang baru tanam umur 9 hari kondisinya kekeringan parah," ucap Abas di lokasi, Kamis (10/8/2023).

Abas memberikan gambaran, jika kondisi cuaca sedang baik, satu hektar lahan bisa menghasilkan 6 ton padi.

Ia juga menuturkan bahwa dalam setahun, petani yang menggarap 300 hektare sawah di Rorotan bisa panen dua kali.

Namun, kondisi pada beberapa pekan terakhir sangat menyulitkan geliat pertanian di sana, ketika hujan mulai jarang turun.

"Kami sedang berusaha cari sumber air, karena ini padi kan memang tidak bisa lepas dari air," katanya.

Adapun berdasarkan pantauan udara di lokasi, persawahan Rorotan yang mengalami kekeringan memang cukup luas.

Lahan-lahan yang seharusnya hijau kini berubah kecoklatan lantaran tanahnya kini kering.

Bahkan, tak sedikit area yang kondisi tanah sawah sampai berkerak karena sama sekali tidak mendapatkan asupan air.

Kekeringan yang terjadi di sawah Rorotan tak terlepas dari kondisi alamiah pada tahun ini, di mana musim kemarau diperparah dengan adanya fenomena El Nino.

Fenomena El Nino terjadi suhu muka air di Samudra Pasifik Tengah meningkat.

Hal ini mengakibatkan curah hujan menurun drastis, seperti dikabarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

BMKG juga memperkirakan puncak fenomena iklim ini berlangsung pada bulan Oktober sampai November 2023.

Masyarakat pun diminta untuk menghemat penggunaan air dalam rangka mengantisipasi kekeringan.


Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved