Dawuh Kiai Pondok Gontor: IKPM Bukan Tempat Nostalgia, Alumni Harus Berperan Nyata di Masyarakat

Dawuh Kiai Pondok Gontor kepada alumni untuk berkontribusi nyata di masyarakat dengan peran dan bidangnya masing-masing.

Tayang:
Editor: Y Gustaman
Dok Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, M.A, memberikan sambutan di acara Silaturahim Peserta Sujud Syukur Peringatan 100 Tahun Gontor Koordinator PP IKPM Gontor dengan Pimpinan PMDG di Aula Rabitah, Selasa (26/8/2023). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor jangan hanya menjadikan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) tempat nostalgia belaka. 

Lebih dari itu, alumni yang tergabung dalam IKPM harus berkontribusi nyata di tengah-tengah masyarakat sesuai bidang dan peranannya masing-masing. 

Demikian dawuh pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, M.A, dalam sambutannya di acara Silaturahim Peserta Sujud Syukur Peringatan 100 Tahun Gontor Koordinator PP IKPM Gontor dengan Pimpinan PMDG di Aula Rabitah, Selasa (26/8/2023).

"Sebaiknya IKPM ini bukan perkumpulan yang sifatnya nostalgia. Karena nostalgia tidak ada akhirnya. Tapi ditingkatkan lagi lebih fungsional dengan memerankan alumni di bidangnya masing-masing," kata Kiai Amal.

Dalam acara silaturahmi itu dihadiri ratusan alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kiai Amal mengenang pengalamannya yang tidak pernah terlupakan, ketika diamanati menjadi Ketua Umum PP IKPM pada tahun 1988.

Ia teringat ungkapan Syeikh Hasan Basyuri, menteri wakaf, "laysal ma'hadu bibinaihi lakin biabnaihi (pondok itu bukan karena bangunannya, tapi karena peran alumninya)."

"Tahun sekian itu belum ada gedung di Gontor, yang ada omah gedek (rumah bambu, red), dan yang dilihat dari Gontor saat itu peran alumninya," ungkap Kiai Amal.

Sementara itu Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A.Ed.,M.Phil, menjelaskan rentetan acara Peringatan 100 Tahun Gontor memakan waktu tiga tahun.

Hal ini, kata Ustaz Hamid, tak terlepas adanya perbedaan berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor berdasarkan penanggalan Hijriah dan Masehi.

"Maka, pembukaan Peringatan 100 Tahun Gontor mengikuti kalender Hijriah dan penutupan ikut Masehi," kata Ustaz Hamid.

Sekadar informasi, Pondok Modern Darussalam Gontor lahir pada tahun 1926. Pembukaan Peringatan 100 Tahun Gontor berdasar kalender Hijriah jatuh pada 27 September 2023.

Sementara untuk penutupan atau puncak Peringatan 100 Tahun Gontor merujuk kalender Miladiyah atau Masehi baru dirayakan pada 2026 mendatang.

Sesuai hasil sidang Badan Wakaf PMDG, semua kegiatan selama Peringatan 100 Tahun Gontor yang berlangsung hingga 2026, harus ada sebuah legacy.

"Kegiatan 100 tahun Gontor harus ditingkatkan menjadi sebuah komunitas yang bermanfaat buat umat," terang Ustaz Hamid.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved