Pilkada Jakarta
Gerakan Anak Abah Bakal Coblos 3 Paslon, Pengamat: Wajar, Karena Hasilnya Sudah Di-setting
Gerakan Anak Abah yang berencana mencoblos semua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di Pilkada Jakarta 2024 dinilai hal yang wajar.
TRIBUNJAKARTA.COM - Gerakan Anak Abah berencana mencoblos semua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di Pilkada Jakarta 2024.
Menurut pengamat politik, Saidiman Ahmad, gerakan tersebut wajar terjadi.
Pasalnya, munculnya gerakan itu karena adanya aspirasi publik yang sangat besar tapi tidak terwadahi dari tiga paslon tersebut.
"Pemilih Anies ditambah dengan pemilih Ahok itu kalau kita jumlahkan lebih dari 60 persen sampai 70 persen. Artinya, sangat besar sebetulnya warga Jakarta yang tidak terkanalisasi dalam Pilkada Jakarta sekarang ini," ujar Saidiman seperti dikutip dari Nusantara TV yang tayang pada Senin (16/9/2024).
Maka tak heran, banyak dari pendukung dari kedua tokoh itu kecewa.
"Kalau ada gerakan untuk mencoblos semua pasangan itu, saya kira sangat wajar. Itu adalah bentuk kekecewaan," ucapnya.
Namun, Saidiman tidak melihat adanya sebuah ajakan atau kampanye yang dilakukan oleh gerakan ini untuk mengajak golput atau tidak memilih.
Gerakan ini dinilainya spontanitas belaka.
"Karena itu muncul dari macam-macam akun media sosial, macam-macam orang yang saya sebetulnya tidak tahu mereka dan saya belum melihat public figure yang benar-benar melakukan ajakan atau kampanye untuk itu," ucapnya.
Settingan?
Saidiman melanjutkan bahwa munculnya gerakan ini karena sebenarnya telah mengetahui bahwa Pilkada Jakarta 2024 telah diatur sedemikian rupa.
"Wajar kemudian publik mengemukakan kekecewaannya dengan tidak datang ke TPS atau coblos semua. Ini bentuk reaksi publik yang wajar sebetulnya menghadapi kondisi di mana pemilihan umumnya itu ada, tetapi hasilya seperti sudah di-setting atau ditentukan dari awal gitu. Nah kondisi semacam ini menunjukkan tidak idealnya kondisi politik kita," pungkasnya.
Respons Ridwan Kamil dan Pramono
Dua calon gubernur Jakarta, Ridwan Kamil dan Pramono Anung menanggapi santai soal adanya Gerakan Anak Abah yang disebut-sebut akan golput atau mencoblos tiga paslon semuanya di Pilkada Jakarta 2024.
Gerakan Anak Abah diketahui merupakan para pendukung Anies Baswedan yang kecewa karena Anies gagal maju di Pilkada Jakarta.
Namun, Ridwan Kamil dan Pramono mengaku tidak masalah dengan gerakan tersebut.
Ridwan Kamil menilai gerakan coblos ketiga semua paslon merupakan sebuah pilihan.
"Dalam demokrasi ada pilihan itu (golput). Tapi, kita harapkan ya, masa depan bisa dititipkan kepada pilihan-pilihan yang ada. Saya hadir di sini salah satunya kan begitu, saya cerita tentang solusi," ujar Ridwan Kamil seperti dikutip dari acara Bongkar Aspirasi Ridwan Kamil (BARK) yang tayang di Youtube pada Minggu (15/9/2024).
Ia hanya berupaya untuk meyakinkan dan tidak bisa memaksa warga Jakarta untuk memilihnya.
Jika di akhir warga Jakarta tetap memilih golput, Ridwan Kamil tidak masalah.
"Tugas saya meyakinkan saja, di akhir hari teryakinkan alhamdulilah, masih tetap tidak teryakinkan tidak masalah," tambahnya.
Dinamika politik
Sementara itu, Pramono Anung, juga tidak akan memaksa warga Jakarta untuk memilihnya sebagai gubernur Jakarta.
Ia menilai munculnya Gerakan Anak Abah sebagai bentuk dinamika politik.
Kendati demikian, Pramono yakin bahwa konstelasi politik bakal berubah jelang Pilkada Jakarta 2024.
Sekretaris Kabinet itu mengklaim adanya sejumlah orang yang dulu sebagai tim sukses Anies Baswedan kini bergabung dengan timses pasangan Pramono Anung-Rano Karno.
"Bahkan beberapa orang yang dulu menjadi tim sukses Mas Anies ada yang menjadi di tempat saya termasuk menjadi jubir di tempat saya, artinya pelan-pelan kan mengalami perubahan," kata Pramono ditemui di GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat, Minggu (15/9/2024).
Pramono pun menegaskan dirinya sangat menghormati Anies Baswedan dan pendukungnya, yang akrab disapa anak abah.
Hal itu terkait Gerakan Anak Abah coblos 3 paslon di Pilkada Jakarta 2024.
"Ini bagian dari dinamika politik," kata Pramono.
Politikus senior PDIP itu menyebut, masih ada waktu dua bulan menuju hari pemungutan Pilkada pada 27 November 2024.
Sehingga dia meyakini akan ada perubahan konstelasi politik ke depannya, termasuk dukungan yang lebih banyak untuk duet Pramono Anung dan Rano Karno.
"Saya melihat bahwa nantinya pasti karena masih dua bulan konstelasinya akan berubah," ucapnya.
Akses TribunJakarta.com di Google News atau WhatsApp Channel. Pastikan Tribunners sudah install aplikasi WhatsApp ya
| KPUD Jakarta: Ridwan Kamil Sibuk, Belum Tentu Hadiri Penetapan Gubernur Terpilih |
|
|---|
| Persiapan Transisi Kepala Daerah, Pj Teguh Bakal Bahas Hal Strategis dengan Pramono |
|
|---|
| Gelaran Pemilu dan Pilkada Jakarta 2024 Kondusif, KPU DKJ Apresiasi Sinergitas Polri |
|
|---|
| Beda Pilihan Saat Pilkada, PKS Ungkap Alasan Tak Bakal Oposisi di Pemerintahan Pram-Rano |
|
|---|
| Komunikasi Masih Intens, Jubir Anies Baswedan Akui Belum Ada Ajakan Masuk Tim Transisi Pram-Rano |
|
|---|