Cerita Kriminal
Pemuda Ini Puas Polisi Kena Siram Air Keras di Kembangan, Bripka Gerald Rasakan Panas dan Perih
Tersangka ISE (23) tampak puas menyiramkan air keras saat tawuran sampai terkena dua anggota Polri di Kembangan, Jakarta Barat, Sabtu (21/9/2024).
TRIBUNJAKARTA.COM - Tersangka berinisial ISE (23) tampak puas menyiramkan air keras saat tawuran sampai terkena dua anggota Polri di Jalan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, Sabtu (21/9/2024)
ISE ternyata dendam karena telah menjadi korban penyiraman air keras pada tahun 2023 lalu.
Bahkan mata kiri ISE mengalami kebutaan karena terkena siraman air keras.
Padahal akibat ulahnya, Bripda Gerald D'Hargado merasakan perih dan panas saat membubarkan tawuran tersebut.
Cairan keras itu mengenai wajah, tangan, lutut dan kakinya.
Sedangkan rekannya, Bripda Muhammad Zulfan Satria Wicaksono, terkena air keras di bagian wajah dan lutut.
ISE seperti tidak memiliki perasaan bersalah dan nampak santai kala polisi menggiringnya saat konferensi pers terkait penyiraman air keras kepada 2 anggota Polri, di Mapolres Metro Jakarta Barat, Selasa (24/9/2024).
Dia bahkan berkali kali melirik ke arah kamera awak media dengan tenang dan mengernyitkan senyum tipisnya.
Ketika polisi memanggil inisial namanya, ISE juga langsung mengacungkan tangannya dengan penuh percaya diri.
"ISE ini mata sebelah kirinya mengalami kebutaan. ISE ini setelah diinterogasi oleh petugas bahwa yang bersangkutan pernah menjadi korban penyiraman air keras pada saat melakukan aksi tawuran di tahun 2023," kata Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol M Syahduddi.
Syahduddi menuturkan penyiraman air keras yang dilakukannya terhadap tim Patroli Presisi Polda Metro Jaya saat menghentikan aksi tawuran yang dilakukan ISE bersama kelompoknya, merupakan bagian dari aksi balas dendam.
"Yang bersangkutan ketika ada orang ataupun lawan yang mengajak tawuran dan dia sudah mempersiapkan air keras ataupun HCL untuk melukai ataupun menyakiti lawannya," jelas Syahduddi.
"Termasuk petugas kepolisian yang datang untuk membubarkan ataupun mencegah terjadinya aksi tawuran tersebut," imbuh dia.
Syahduddi juga mengungkap, ISE dan pelaku lainnya kerap tergabung dalam kelompok-kelompok tawuran yang janjian lewat sosial media.
Yang mana selain ingin memperoleh eksistensi, para pelaku juga mencari uang lewat banyaknya pengikut (followers) di akunnya.