Pameran Seni Rupa: Komunikasi vs Komunikacau
Bentara Budaya menggelar Pameran Kartun "Komunikasih vs Komunikacau" di Bentara Budaya Art Gallery di Lantai 8, Menara Kompas, Jakarta.
Paradoks Komunikasi Kita
Paradoks. Istilah itu tepat menggambarkan dinamika komunikasi manusia belakangan ini. Ketika teknologi informasi menyediakan sarana komunikasi yang kian canggih, manusia justru kerap mengalami masalah dalam komunikasi.
Soal kecanggihan peralatan komunikasi, Revolusi Industri 4.0 telah menawarkan berbagai kemudahan yang menakjubkan bagi kehidupan manusia. Nyaris tidak ada satupun aspek kebutuhan komunikasi yang tidak terpenuhi oleh inovasi teknologi.
Prinsip Otomasi, analisis big data, teknologi robot, "artificial intelligence" (AI), hingga "internet of things" (IoT) membuat arah komunikasi semakin interaktif, terintegrasi, bergerak secara otomatis, dan terus berputar tiada henti.
Dengan "smartphone" di tangan, kita dapat memenuhi semua keperluan komunikasi sehari-hari, mulai dari kepentingan pekerjaan, keluarga, sosial, pendidikan, kesehatan, bahkan hobi yang sangat pribadi.
Cukup dengan beberapa klik saja, semua terpenuhi. Tak perlu lagi tatap muka karena semua ditautkan via jaringan internet “(online).”
Untuk urusan rapat di kantor jarak jauh, misalnya, kita bisa manfaatkan aplikasi video “meeting.” Video itu bersifat seketika dan melampaui jarak antar negara atau benua sehingga kita bisa melakukan pertemuan secara “live” dalam satu waktu dengan peserta dari banyak negara berbeda.
Untuk bercengkrama bersama keluarga, kita bisa gunakan pesan, panggilan suara, atau panggilan video.
Media sosial menyediakan berbagai fitur untuk simpan data, foto, video dan berbagai dengan jaringan pertemanan secara global. Terkait Hobi, Platform “marketplace” mempermudah kita untuk belanja pernak-pernik minat yang sangat khusus.
Demikian canggih alat komunikasi terkini sehingga kita senantiasa dibanjiri beragam informasi dari berbagai arah. Semua berjalan selama 24 jam penuh.
Komunikasi tidak hanya bersifat dua arah, tetapi banyak arah, interaktif, dan berlangsung serentak dalam satu momen yang melibatkan banyak orang.
Dulu, siaran langsung dimonopoli media penyiaran konvensional yang menguasai frekuensi tertentu. Sekarang, semua orang bisa membuat siaran langsung yang terkoneksi jaringan internet global.
Kemajuan teknologi informasi jelas memberikan banyak keuntungan bagi kita semua.
Namun, kemajuan teknologi informasi juga berpotensi mendatangkan berbagai masalah. Dalam ranah sosial, sebagian masyarakat menikmati media sosial untuk memenuhi hasrat pameran (narsistik) dalam bermacam bentuk. Semua hal dalam dirinya diumbar ke publik, "flexing", bahkan termasuk mengumbar data pribadi. Namun, sebaran data pribadi itu justru memicu kejahatan siber.
Oleh para kriminal, data itu diolah untuk operasi kejahatan, seperti "hacking" (pembajakan), “doxing” (pembongkaran data pribadi), "phising" (penipuan), peretasan, "stalking" (penguntitan), atau "bullying"(perundungan).
| Ribuan Warga Lintas Organisasi Padati Teras Lenteng Agung, Demi Perkuat Kebersamaan |
|
|---|
| Presiden Tunisia Buka Paviliun Indonesia di Pameran Buku Internasional ke-40 |
|
|---|
| Tampil Istimewa, Indonesia Jadi Tamu Kehormatan di Pameran Buku Tunisia 2026 |
|
|---|
| Pameran Jurnalistik Haluan Merah Putih Meriahkan Perayaan Tahun Baru di Taman Margasatwa Ragunan |
|
|---|
| Pameran Foto Jurnalistik di Stasiun Tanah Abang, Merekam Setahun Pemerintah Prabowo-Gibran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Pameran-Komunikasi-vs-Komedikacau.jpg)