Cerita Kriminal

Pembubaran Paksa Diskusi FTA di Kemang, Rocky Gerung Cium Adanya Pembiaran Polisi

Pengamat politik, Rocky Gerung, melihat pembubaran paksa acara diskusi Forum Tanah Air (FTA) di Grand Kemang, terjadi karena adanya pembiaran polisi.

Tayang:

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik, Rocky Gerung, melihat pembubaran paksa acara diskusi Forum Tanah Air (FTA) di Grand Kemang, Jakarta Selatan, terjadi karena adanya pembiaran dari pihak kepolisian. 

Pihak kepolisian, kata Rocky, meski turut berada di lokasi acara, tidak menjalankan tugasnya untuk mencegah agar insiden itu terjadi. 

"Ada semacam istilah hukumnya itu, pembiaran, act of omission. Jadi, petugas keamanan membiarkan peristiwa itu terjadi. Itu artinya petugas keamanan tidak punya, tidak menjalankan tugasnya untuk mencegah itu," kata Rocky Gerung seperti dikutip dari RockyGerungOfficial_2024 di Youtube yang tayang pada Sabtu (28/9/2024). 

Hal itu bisa terlihat ketika petugas tertangkap kamera amatir bersikap melunak dengan para perusuh di lokasi acara. 

"Di dalam banyak kamera, bahkan berpelukan (polisi dan perusuh) itu jadi terbaca sebetulnya satu jalinan atau semacam relasi antara pelaku dengan petugas itu yang dibaca oleh Setara Institute, dibaca oleh mereka, mulai mempertanyakan di mana ada perlindungan terhadap warga negara?" ujarnya. 

Semestinya kebebasan berpendapat itu harus dilindungi oleh negara. 

Aparat negara justru tidak hadir untuk melindungi warganya saat insiden itu terjadi.

Padahal, dasar pertama dalam Demokrasi itu adalah kebebasan sipil.

"Jadi kalau aparat negara tidak melindungi artinya dia melanggar prinsip-prinsip yang merupakan tugas dia. Yang pelanggaran itu berarti membiarkan kebebasan sipil itu dikendalikan oleh orang lain," jelasnya.

Soroti sikap polisi terhadap perusuh

lihat fotoKLIK SELENGKAPNYA: Mantan Dubes Indonesia Untuk Polandia, Peter Gontha Kena Semprot Saat Mempertanyakan Nasib Pemain Naturalisasi. Rocky Gerung Singgung Ketidakberesan.
KLIK SELENGKAPNYA: Mantan Dubes Indonesia Untuk Polandia, Peter Gontha Kena Semprot Saat Mempertanyakan Nasib Pemain Naturalisasi. Rocky Gerung Singgung Ketidakberesan.

Mantan sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menyoroti sikap polisi terhadap para pelaku pembubaran paksa sebuah acara Forum Tanah Air (FTA) di Grand Kemang, Jakarta Selatan pada Sabtu (28/9/2024). 

Dalam cuitannya di X (dulu Twitter), Said Didu mempertanyakan sikap polisi yang terlihat akrab dengan sekelompok orang yang tiba-tiba membubarkan paksa acara diskusi tersebut. 

Said berkomentar bahwa usai melakukan perbuatan anarkistis, para pelaku diperlakukan secara baik oleh polisi.

"Setelah mengacak-ngacak ruang dialog kami, meneror kami di dalam ruangan - ternyata mereka diantar, berpelukan, dan cium tangan dg aparat. Mohon perhatian Bapak Kapolri @ListyoSigitP," cuit Said Didu seperti dikutip dari akun X-nya yang tayang pada Minggu (29/9/2024). 

Said Didu melanjutkan polisi sebenarnya tidak sulit untuk memburu para pelaku. 

Pasalnya, wajah mereka terekam jelas dari video anarkistis yang sudah beredar luas di media sosial. 

"Bapak polisi yth (yang terhormat), tinggal ambil video yg ada - sudah jelas kok," ujar Said Didu ketika mengomentari berita tentang polisi yang sedang memburu para pelaku di X pada Minggu (29/9/2024). 

Aksi pembubaran paksa

Diberitakan sebelumnya, Forum diskusi yang dihadiri sejumlah tokoh, termasuk pakar hukum tata negara Refly Harun, yang digelar di Grand Kemang tiba-tiba dibubarkan oleh sekelompok orang, Sabtu (27/9/2024) pagi.

Refly Harun menuturkan, forum diskusi itu juga dihadiri Said Didu, Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayjen (Purn) Soenarko, dan sejumlah aktivis yang mengagendakan evaluasi pemerintahan Presiden Joko Widodo serta harapan pemerintahan ke depan.

"Jam 09.00 WIB saya datang, sudah ada orang yang berorasi. Nah ketika acara mau dimulai, tiba-tiba masuk sekelompok orang itu ke venue membubarkan acara dengan melakukan perusakan," ujar Refly saat dihubungi, Sabtu (28/9/2024).

Refly menuturkan, acara tersebut belum dimulai. Namun, massa kelompok itu sudah berorasi menuntut pemberhentian acara.

"Acara belum dimulai, ada semacam tuntutan dari mereka agar acara tidak dilakukan. Pihak hotel menyampaikan itu ke kita," imbuhnya.

Refly pun tidak mengetahui alasan detail mengapa kelompok orang itu membubarkan forum diskusi tersebut.

"Itu alasan formalnya. Tapi kan alasan belakang layarnya kita enggak tahu, siapa yang menggerakannya. Enggak mungkin mereka bergerak sendiri," ucapnya.

Alhasil, karena adanya massa kelompok yang tiba-tiba membubarkan acara, forum diskusi diberhentikan meski acara seharusnya berjalan hingga pukul 14.00 WIB.

"Acaranya tidak berjalan, jadi kami cuma bertahan di ruangan, ngobrol-ngobrol, silaturahmi, makan-makan, itu doang. Acara harusnya (selesai) pukul 14.00, kami diminta bubar jam 12.00 WIB," ucap dia.

Akses TribunJakarta.com di Google News atau WhatsApp Channel. Pastikan Tribunners sudah install aplikasi WhatsApp ya

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved