BKT Runners Nilai Jakarta Miliki Potensi Sport Tourism
DKI Jakarta disebut memiliki potensi untuk meningkatkan sport tourism atau pariwisata olahraga dengan menawarkan pengalaman berwisata yang berbeda.
Penulis: Bima Putra | Editor: Nur Indah Farrah Audina
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - DKI Jakarta disebut memiliki potensi untuk meningkatkan sport tourism atau pariwisata olahraga dengan menawarkan pengalaman berwisata yang berbeda.
Menurut Banjir Kanal Timur (BKT) Runners, sebuah komunitas pegiat olahraga lari di Duren Sawit, Jakarta Timur potensi sport tourism Jakarta bahkan mampu menggaet wisatawan mancanegara.
Humas BKT Runners, Shandy Aditya mencontohkan kegiatan Jakarta International Marathon dan Jakarta Running Festival yang terbukti mampu menjadi magnet bagi wisatawan.
"Fenomena lari (dikemas dalam sport tourism) ini memang menurut kami positif sekali untuk bisa digaungkan," kata Shandy di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (29/5/2025).
BKT Runners optimis bila pemerintah pusat maupun Pemprov DKI Jakarta dapat aktif mendukung dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serupa, maka sport tourism di Jakarta meningkat.
Termasuk ragam kebudayaan yang nantinya dapat ditampilkan dalam kegiatan, sehingga masyarakat kian mengenal budaya Jakarta secara khusus dan nusantara secara umum.
Terlebih kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat kian meningkat, terbukti dari banyaknya kegiatan olahraga dari tingkat kota, kecamatan bahkan hingga kelurahan disambut baik masyarakat.
"Enggak hanya (kegiatan) di kota madya, tapi juga di kecamatan, kelurahan. Kalau komunitas-komunitas (olahraga) yang ada di-support pasti warganya akan semakin sehat," ujar Shandy.
BKT Runners juga berharap agar Pemprov DKI Jakarta dapat lebih memperhatikan kenyamanan dan keamanan ruang publik, sehingga masyarakat dapat berolahraga dengan nyaman.
Ketua BKT Runners, Andi Yoshendy berharap adanya penempatan petugas pada titik dianggap rawan atau minim penerangan jalan umum (PJU) untuk memastikan keamanan warga.
Pasalnya jumlah anggota BKT Runners yang kini tercatat lebih dari 100 orang, banyak anggota memilih berolahraga pada pagi buta atau saat kondisi jalur BKT masih sangat sepi.
"Jika ada petugas memantau keadaan. Misalnya di persimpangan atau di titik yang gelap dibantu awasi sampai jam setidaknya sekira jam 06.00 WIB lewat, saat sudah ramai," tutur Andi.
Kemudian terkait masalah keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang kerap mengambil alih fungsi akses jalan yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk warga berolahraga.
Andi berharap Pemprov DKI Jakarta dapat menegakkan aturan pada titik-titik yang memang dilarang untuk berjualan, sehingga tidak mengganggu warga saat berolahraga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/BKT-Runners.jpg)