Bekasi Bakal Terapkan Pengelolaan Sampah Berbasis Aplikasi Android

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Tumpukan sampah bambu di Bendungan Koja Kali Cikeas, Jatiasih, Kota Bekasi

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachriar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Pemerintah Kota Bekasi belum lama ini melakukan sejumlah kunjungan kerja baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Kunjungan kerja tersebut bertujuan untuk memperlajari pengelolaan sampah dengan menerapkan teknologi.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi Kiswatiningsih, mengatakan, hasil kunjungan kerja sampai saat ini telah disusun dalam sebuah rancangan yang nantinya akan diserahkan ke Wali Kota Bekasi.

"Roadmap sudah kami siapkan ke pak wali tahapannya, mana yang bisa ditiru, mana yang perlu pengembangan," kata Kiswatiningsih, Minggu, (27/10/2019).

Salah satu yang bakal dikembangkan adalah pengelolaan sampah berbasis aplikasi android. Konsep ini memungkinkan pemilahan sampah dilakukan di hulu atau sumber sampah yakni, rumah-rumah warga.

"Jadi dari hulu sampah rumah tangga yang bernilai ekonomis dapat langsung dipilah, masyarakat bisa menggunakan aplikasi sebagai acuan, intinya mengedukasi masyarakat, caranya pakai aplikasi," ungkapnya.

Melalui aplikasi ini, nantinya masyarakat bisa melakukan penukaran sampah bernilai ekonomis yang sudah dipilah ditukarkan dengan uang. Konsep ini serupa dengan konsep bang sampah yang sudah berjalan.

Hanya saja, pada tahapan pengembangan pengelolaan sampah ini, ada aplikasi yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana kapan masyarakat ingin menukar sampahnya dan proses pembayaran dilakukan semua melalui aplikasi.

"Sampah nanti dia bisa secara online disampaikan ada aplikasinya, nanti ada petugas yang ambil ke dia (masyarakat), nanti langsung top up rekeningnya yang ngirim aplikasi tadi," jelas dia.

Namun sejauh ini, DLH masih akan terus melakukan kajian secera menyeluruh mengenai konsep pengelolaan sampah bernasis aplikasi.

"Nanti diatur lagi mekanismenya bagaimana, aplikasinya seperti apa, pengelolanya siapa aja, harus kita siapkan dong enggak ujug-ujug," tegasnya.

Pembersihan Sampah Bambu di Bendungan Koja Jatiasih Diprediksi Berlangsung 2 Pekan

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman menyebutkan proses pembersihan sampah bambu yang menumpuk di Bendungan Koja, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi bisa memakan waktu hingga dua pekan.

Hal ini, kata dia, dikarenakan proses pengangkutan sampah dilakukan secara manual.

Sebab, akses jalan untuk kendaraan alat berat tidak memungkinkan.

"Kalau prosesnya manual kaya gini bisa sampai dua minggu, karena lama enggak bisa dikeruk langsungkan kaya pakai alat berat, cuma mengandalkan crane sama aja paling untuk material sampah ukuran besar," kata Puarman.

Adapun selain diangkut secara manual, proses pembersihan ini dilakukan juga dengan cara menggelontorkan sampah ke hilir sungai.

Nantinya, di pertemuan antara kedua sungai tepatnya di Perumahan Kemang Pratama, sampah dihadang dan diangkut dengan alat berat.

"Jadi alat berat ga di sini tapi di bawah. Jadi kayu yang besar-besar kita angkat pakai crane, crane kan bisa masuk. Yang ukurannya sedang kita gelontorkan ke bawah terutama yang bambu, dan sampah kecil yang tidak kita angkat," jelas dia.

Jarak dari lokasi tumpukan sampah di Bendungan Koja sampai ke pertemuan antara dua sungai Cileungsi dan Cikeas sekitar 500 meter. Selama proses pembersihan, sampah yang dogelontorkan akan dikawal petugas hingga ke titik alat berat dapat mengangkut di Perumahan Kemang Pratama.

"Setelah ketemu Sungai Cileungsi, kalinya sudah sangat besar, lebarnya 20 meter. Di sana seandainya nyangkut bisa kita angkat, karena akses masuk alat berat bisa," paparnya.

Selain terkendala alat berat serta proses pembersihan manual, keterbatasan personel juga menjadi kendala.

Hari kedua peroses pembersihan saja, Puarman mencatat ada sekitar 66 personel saja, berbeda dengan kemarin yang mencapai 169 personel.

"Kalau kemarin ada dari TNI, Polisi, dari DLH Kabupaten Bogor juga ada, PJT II, kalau yang saat ini hari kedua mayoritas dari DLH Kota Bekasi," imbuhnya.

Terkendala Akses Jalan, Pembersihan Sampah Bambu di Bendungan Koja Dilakukan Secara Manual

Sejumlah petugas mengangkut sampah bambu yang menumpuk di Kali Cikeas, Bendungan Koja Bekasi, Rabu (16/10/2019). (TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar)

Proses pembersihan sampah bambu yang menumpuk Kali Cikeas tepatnya di Bendungan Koja, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi telah dilakukan sejak Selasa, (15/10/2019).

Pembersihan dilakukan dengan cara manual, cara ini ditemput lantaran petugas kesulitan menerjunkan alat berat akibat terkendala akses.

Ketua Kominitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman, mengatakan, sejak kemarin, prosea pembersihan dilakukan dengan dua cara. Pertama, menerjunkan personel langsung ke dalam sungai untuk mengangkut sampah secara manual.

"Pembersihan kan manual karena alat berat enggak nungkin masuk sini. Alat berat itu 4,5 meter (lebar), akses masuk 3 meter. Nah kita skenarionya adalah diangkat manual, libatkan banyak orang," kata Puarman.

Untuk memudahkan pengangkutan material sampah berukuran besar, petugas juga menerjunkan alat crene. Sampah yang diangkut dikumpulkan terlebih dahulu di bibir sungai untuk diangkut menggunakan truk sampah.

"Warga juga khawatir kalau tanggul kita jebol supaya akses alat berat takutnya malah menimbulkan masalah baru sewaktu-waktu bisa jebol karena daya rekat tidak kuat," jelas dia.

Langkah kedua yang dilakukan dalam proses pembersihan ini yakni menggelontorkan smapah bambu dan sampah lainnya ke hilir sungai.

"Sampah digelontorkan ke hilir, nanti di pertemuan dua sungai di Kemang Pratama dihambat di sana, baru diangkat pakai alat berat, karena akses di sana cukup luas," tegas dia.

Adapun untuk pembersihan hari kedua ini, sampah bambu masih menumpuk cukup banyak. Bahkan, kepadatannya masih mampu diinjak tanpa khawatir terjeblos ke dalam aliran kali.

Sampah Bambu Masih Menumpuk di Bendungan Koja Jatiasih, 100 Personel Gabungan Diturunkan

Tumpukan sampah bambu di Bendungan Koja Kali Cikeas, Jatiasih, Kota Bekasi (Istimewa/KP2C)

Tumpukan sampah bambu di Bendungan Koja Kali Cikeas, Jatiasih, Kota Bekasi, masih menumpuk.

Pemerintah Kota Bekasi bersama unsur gabungan sejak kemarin telah mengangkut sampah tersebut pada Rabu (16/10/2019).

Sampah bambu ini masih memenuhi permukaan kali dan ukuran panjang bambu bervariasi dari satu meter hingga lebih.

Saking padatnya, tumpukan sampah bambu bahkan dapat dinaiki permukaannya.

Sampah bambu tersebut bercampur dengan sampah rumah tangga dan kayu besar, sehingga aliran air tersumbat.

Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Bekasi, Masriwati, mengatakan panjang tumpukan sampah ini diperkirakan mencapai 160 meter dengan lebar delapan meter.

"Untuk total sampahnya itu sekitar 1.200 kubik," kata Masriwati.

Pembersihan sampah bambu sudah sejak Selasa (15/10/2019). Sebanyak 100 personel gabungan sudah diterjunkan.

"Ada dari TNI, Polisi, dari DLH Kota Bekasi saja ada sekitar 70 orang kita terjunkan," ungkap dia.

Proses pembersihan dilakukan dengan cara diangkut secara manual.

Perwal Truk Tak Libatkan Masyarakat, Wali Kota Tangsel Airin Dilaporkan ke Ombudsman

Tampan dan Cantik, Personel Band Polisi Jadi Rebutan Pengunjung CFD Berswafoto

Terjerat Skandal Prostitusi, Ini Pengakuan PA Saat Dikaitkan dengan Putri Pariwisata Indonesia

Pihak Dinas Lingkungan Hidup juga menerjunkan crane untuk mengangkat sampah kayu ukuran besar.

"Sampahnya kita angkut, ada dari Kabupaten Bogor juga kita kerja sama, artinya proses ini dilakukan bersama-sama," jelas dia.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) Puarman, mengatakan fenomena tumpukan sampah bambu di Kali Cikeas sudah beberapa kali.

Sampah ini merupakan sampah kiriman dari hulu sungai, terbawa arus saat volume air meningkat dan menumpuk di Bendungan Koja.

"Asal ada kenaikan air sungai Cikeas hampir 200 cm, selalu membawa material sampah bambu. Jenis sampah 90 persen sampah bambu, 10 persen sampah rumah tangga," ujar Puarman.

Berita Terkini