Beda Analisa Rocky Gerung dan Pengamat Politik Soal Qodari Jadi KSP, Tapi Kompak Bahas Ide 3 Periode
Pengamat politik dari Unas dan Rocky Gerung memberikan analisa berbeda mengenai penunjuka M Qodari sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Sedangkan Qodari yang memiliki rekam jejak sebagai pengamat politik dan doktor ilmu politik dianggap mampu mengendalikan isu strategis dan koordinasi lintas kementerian.
"Nah, karakter Putranto menurut saya mengapa Prabowo akhirnya mengganti menurut saya mungkin tidak cocok karakter militer menghadapi kebutuhan politik di masa transisi ini. Jadi harus orang yang luas tidak kaku. Nah, Qodari ini kan luas sekali," katanya.
"Nah, ini ini kelebihan Qodari yang mungkin dilihat oleh Prabowo Subianto apa namanya sebagai tokoh politik aktif yang bisa menjembatani peralihan dari era Jokowi kepada era Prabowo," sambung Selamat Ginting
Beda dari Pengamat Politik
Sementara itu, Rocky Gerung mengkritik keras Prabowo Subianto yang mengangkat Qodari sebagai KSP.
Menurut Rocky, posisi KSP sama saja orang nomor dua di Istana.
Sayangnya, Rocky menganggap Qodari bukanlah sosok yang tepat berada di jabatan setinggi itu.
Qodari dinilai memiliki rekam jejak yang berlawanan dengan demokrasi, yaitu pernah mengusung jabatan presiden tiga periode untuk Jokowi.
Konsultan politik yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer itu karib disebut sebagai penggaung utama Jokowi tiga periode, walaupun konstitusi mengatur jabatan presiden maksimal hanya dua periode.
Jelang Pilpres 2024 lalu, bahkan, Qodari ikut mengusulkan pasangan Jok-Pro atau Jokowi-Prabowo, upaya mendukung Jokowi menjadi presiden untuk periode ketiga, dan menyandingkannya dengan Prabowo, mantan rival pada Pilpres 2019 dan 2014.
Seperti diketahui, gerakan tiga periode ramai ditentang masyarakat, terutama aktivis demokrasi. Sebab,pembatasan masa jabatan merupakan salah satu tuntutan reformasi yang tidak boleh dibatalkan.
"Jadi kedudukan itu dianggap sebagai Presiden tidak peka dengan tuntutan reformasi. Presiden tidak peka dengan tuntutan anak-anak muda kemarin tu, yaitu bersihkan kabinet dari kelompok yang tidak punya pikiran demokratis," kata Rocky berbicara di program FNN, Youtube @RockyGerungOfficial_2024, tayang Kamis (18/9/2025).
Menurut Rocky, dengan Qodari menjadi pemimpin KSP, Prabowo sama saja sedang merencanakan kekuasaan sampai tiga periode.
"Dalam kedudukan dia sekarang dianggap bahwa Presiden Prabowo menyetujui sifat manipulatif dari apa yang dilakukan oleh Qodari itu menyorongkan ide tiga periode dan itu yang kemudian orang anggap kalau begitu Presiden Prabowo juga bersiap-siap untuk jadi tiga periode dong."
"Kira-kira begitu jalan pikirannya. Jadi etos di dalam demokrasi yang tidak dipahami oleh Presiden Prabowo bahwa orang seperti Qodari harusnya tidak boleh ada di dalam kabinet yang bersifat ingin memajukan demokrasi. Kenapa? Karena pikiran Qodari konservatif, tidak progresif. Konservatif artinya ingin kekuasaan itu tidak berubah. Dan itu yang dia buktikan dengan, bahkan metode ilmiah supaya Jokowi itu diperpanjang tiga periode," paparnya.
Rocky pun menyebut Prabowo tidak memahami demokrasi. Menurutnya, kebijakan perombakan kabinet yang dilakukan kali ini menggambarkan Prabowo memiliki cacat etis dalam demokrasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/prabowo-pelototi-qodari.jpg)