DTKJ Nilai Keamanan JakLingko Tak Ubah Angkot Konvensional

Layanan Mikrotrans JakLingko sebagai moda transportasi umum penunjang mobilitas warga belum dapat memberikan rasa aman kepada penumpang.

Penulis: Bima Putra | Editor: Rr Dewi Kartika H
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
JAKLINGKO -Layanan Mikrotrans JakLingko sebagai moda transportasi umum penunjang mobilitas warga belum dapat memberikan rasa aman kepada penumpang. 

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Layanan Mikrotrans JakLingko sebagai moda transportasi umum penunjang mobilitas warga belum dapat memberikan rasa aman kepada penumpang.

Di Jakarta Timur, seorang nenek menjadi korban penodongan saat menaiki JakLingko di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, pada Minggu (19/10/2025) pagi.

Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Komisi Kelaikan dan Keselamatan, Ajad Sudrajad mengatakan kasus tersebut menunjukkan keamanan JakLingko tak ubahnya angkot konvensional.

"Kalau saya pribadi masih memandang sama dengan keamanan mikrolet konvensional," kata Ajad saat dikonfirmasi di Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (22/10/2025).

Pasalnya tidak ada petugas khusus yang memastikan keamanan penumpang, hanya terdapat CCTV yang tidak mampu menjamin dan mencegah terjadi gangguan keamanan di JakLingko.

Sementara dalam transportasi umum aspek keamanan penumpang merupakan hal mutlak yang harus dijamin pengelola, dalam hal ini PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

"Mikrotrans itu sama seperti dulu. Bedanya dulu kita bisa cegat (angkot) di sembarang tempat, sekarang harus ada bus stop. Ke depannya selain CCTV yang ada di mikrotrans harus ada petugas," ujarnya.

Menurutnya tidak mungkin bila membebankan tanggung jawab aspek keamanan penumpang dari tindak kejahatan kepada pengemudi, karena beban pengemudi sudah tinggi.

Sehingga solusi untuk memastikan keamanan penumpang agar tidak terjadi kasus tindak kejahatan serupa di JakLingko yakni melalui penempatan petugas khusus.

Ajad menuturkan dengan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) DKI Jakarta yang besar, penempatan petugas selain driver patutnya tidak membebani anggaran.

"Berbeda dengan ketika kita naik Transjakarta, LRT, MRT kita setidaknya ada rasa aman. Tapi kalau mikrotrans saya beberapa kali naik tetap tidak ada perubahan," tuturnya.

Sebelumnya seorang warga bernama Iin Windari (57) menjadi korban penodongan dua pemuda saat menaiki JakLingko di Jalan Lapangan Tembak, Jakarta Timur pada Minggu (19/10) pagi.

Dalam aksinya kedua pelaku berbagi peran, seorang menodongkan benda diduga pisau kepada korban sementara pelaku lain mengambil uang Rp100 ribu milik korban.

Kedua pelaku memanfaatkan kondisi penumpang yang saat kejadian sedang sepi, sehingga korban tidak berani berteriak meminta tolong kepada pengemudi JakLingko.

naik saya tap mesinnya enggak respons," tuturnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved