Dialog Literasi di STIK, Usman Hamid dan Alissa Wahid Bahas Transformasi Polri
STIK Lemdiklat Polri kembali menggelar Dialog Literasi Kebangsaan di Auditorium Mutiara STIK Polri, Kebayoran Baru, Jaksel.
Penulis: Annas Furqon Hakim | Editor: Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri kembali menggelar Dialog Literasi Kebangsaan (DILIBAS) di Auditorium Mutiara STIK Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).
Pada episode kelima ini, tema yang diangkat adalah "Transformasi Polri: Retorika atau Harapan?".
Direktur Amnesti Internasional Indonesia Usman Hamid dan Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid dihadirkan sebagai narasumber dalam diskusi ini.
Usman mengatakan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri masih rendah. Sama halnya kepercayaan masyarakat terhadap DPR.
"Kepercayaan masyarakat terhadap polri masih rendah. Tapi rendahnya kepercayaan masyarakat kepada kepolisian, itu sama rendahnya kepercayaan masyarakat kepada DPR," kata Usman.
Menurut Usman, perbaikan di tubuh Polri harus dimulai dengan memperbaiki DPR.
Sebab, ia menilai Polri bisa menerapkan sistem yang demokratis jika pemerintah dan DPR melakukan hal serupa lebih dulu.
"Jadi kalau kita mau memperbaiki polri, kita perbaiki dulu DPR nya. Kalau kita mau memperbaiki polri, kita perbaiki dulu pemerintahnya," ujar Usman.
"Karena polri itu bisa sangat menerapkan kepolsiian yang demokratis kalau pemerintah dan DPR demokratis dalam membuat kebijakan. Polri bisa sangat otoriter kalau pemerintah dan DPR memilih kebijakan yang otoriter," imbuh dia.
Sementara itu, Alissa Wahid mengatakan bahwa masyarakat menaruh harapan besar terhadap Polri.
"Sampai saat ini kenapa kritik juga demikian deras ke Polri, ada penurunan kepercayaan dan lain-lain, ya karena memang harapan itu besar. Justru karena masyarakat diam, itu berarti masyarakat sudah tidak punya harapan," ucap Alissa.
Ketua STIK Lemdiklat Polri Irjen Eko Rudi Sudarto menekankan pentingnya kesiapan kader Polri dalam mewujudkan pelayanan yang profesional dan akuntabel.
"Kepercayaan publik terhadap Polri hanya dapat dibangun melalui konsistensi tindakan, penggunaan kewenangan secara proporsional, serta pengawasan yang berjalan efektif. Mahasiswa STIK merupakan bagian dari estafet kehormatan institusi yang akan menentukan wajah Polri di masa mendatang," tutur Eko.
BERITA TERKAIT
- Baca juga: Deolipa Datangi Bareskrim Polri, Minta Kejelasan Kasus Hukum yang Bergulir Sejak 2019
- Baca juga: Haru Tangis Keluarga Korban Kebakaran Terra Drone Saat Penyerahan 7 Jenazah di RS Polri
- Baca juga: Daftar 7 Korban Kebakaran Terra Drone yang Teridentifikasi RS Polri, Total 10 Jenazah Terungkap
Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Usman-Hamid-Alissa-Wahid.jpg)