Ramadan 2026

Kiai Muhyiddin Ishaq dan Nasihat tentang Waktu

KH Muhyiddin Ishaq, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum membagikan pelajaran hidup yang paling membekas dalam dirinya.

Tayang:
TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir/Jaisy Rahman Tohir
MUHYIDDIN ISHAQ - Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum, KH Muhyiddin Ishaq, saat bicara untuk program Pra Kiai, TribunJakarta.com, di kediamannya, di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). Muhyiddin bicara soal waktu. 

TRIBUNJAKARTA.COM - KH Muhyiddin Ishaq, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, yang berlokasi di Cilandak, Jakarta Selatan, membagikan pelajaran hidup yang paling membekas dalam dirinya, yakni nasihat sang ayah, seorang kiai kharismatik, KH Ishaq Yahya, tentang pentingnya memanfaatkan waktu secara optimal.

Menurut Muhyiddin, pesan tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan prinsip hidup yang terus ia pegang hingga kini dalam mendidik para santri.

“Beliau selalu bilang, manfaatkan waktu seoptimal mungkin, sebab waktu tidak pernah bisa terulang,” ujar Muhyiddin dalam wawancara program 'Para Kiai' di TribunJakarta,com, Kamis (26/2/2026).

Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta itu menjelaskan, setiap waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, bahkan untuk momen yang tampak rutin sekalipun.

“Subuh hari ini tidak akan pernah bisa diulang. Besok memang ada Subuh lagi, tapi itu Subuh yang lain,” katanya.

Pria 67 tahun itu mengibaratkan waktu tidak seperti rekaman yang bisa diputar ulang. Masa kecil maupun masa muda, lanjutnya, hanya akan tersisa sebagai kenangan yang tidak mungkin kembali.

“Waktu muda kita hanya jadi kenangan. Tidak bisa kembali lagi,” ucapnya.

Pesan tersebut kemudian ia teruskan kepada para santri agar tidak menyia-nyiakan masa muda yang dimiliki.

Menurut Muhyiddin, pemanfaatan waktu secara optimal sejatinya menjadi kunci untuk menghindarkan seseorang dari berbagai persoalan hidup.

“Pemanfaatan waktu yang optimal itu sesungguhnya moto yang bisa mengentaskan banyak masalah,” tuturnya.

Ia menilai, banyak penyimpangan perilaku justru muncul ketika seseorang memiliki waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik.

“Orang bisa menyeleweng ketika waktunya kosong, tidak dimanfaatkan secara optimal. Ketika ada kelowongan waktu, di situlah masalah muncul,” ujarnya.

Muhyiddin bahkan mencontohkan, seseorang yang mampu mengatur waktunya dengan baik tidak akan memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

“Kalau waktunya terisi dengan baik, enggak sempat dia melakukan hal-hal yang enggak perlu. Masalah biasanya datang ketika ada waktu kosong,” katanya.

Prinsip tersebut tercermin dalam pola kehidupan santri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang dikenal memiliki jadwal kegiatan padat sejak dini hari hingga malam.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved