Bicara Pelemahan Rupiah, Anies Baswedan Singgung Ada Pejabat Becanda saat Respons Situasi Serius

Anies Baswedan, menyoroti kondisi ekonomi nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus menjadi perhatian publik.

Tayang:
Tribunnews.com
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat ditemui usai pencoblosan Pilkada Jakarta 2024 di TPS 029, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (27/11/2024). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Gubernur DKI Jakarta (2017-2022), Anies Baswedan, menyoroti kondisi ekonomi nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus menjadi perhatian publik.

Dalam pernyataan videonya, eks capres Pilpres 2024 itu menyebut kondisi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Ia menyinggung nilai rupiah yang jatuh ke titik terendah, harga kebutuhan yang meningkat, hingga daya beli masyarakat yang melemah.

Pada titik terlemahnya, pada Selasa (20/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai level Rp 17.785.

“Saya mengikuti dengan seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini dan terus terang kondisinya tidak baik-baik saja,” kata Anies pada unggahan video di Instagramnya @aniesbaswedan, pada Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, tekanan ekonomi yang terjadi saat ini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat luas.

“Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus,” ujarnya.

Anies juga mengingatkan tantangan global yang membayangi Indonesia, mulai dari tensi geopolitik hingga ancaman cuaca ekstrem El Nino.

Ia menilai, dalam situasi seperti sekarang, publik dan pasar membutuhkan kepastian dari pemerintah.

“Yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian,” ucapnya.

Namun, Anies justru mengkritik respons pemerintah yang dinilainya belum memberikan rasa tenang.

Ia menyinggung adanya pejabat yang dianggap bercanda saat merespons persoalan serius.

“Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda,” kata Anies.

Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai berubah-ubah sehingga membuat publik dan investor bingung.

“Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri bahkan sebagian kabur,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved