Bukan Sekadar Filosofi 'Melukis Langit', Pramono Buka-Bukaan Cara Memimpin Jakarta dari Ruang Rapat

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap prinsip kepemimpinannya menjalankan pemerintahan Ibu Kota

Tayang:
Tribun Jakarta/Yusuf Bachtiar
KEPEMIMPINAN PRAM - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat hadir di Lebaran Betawi di Lapangan Banteng, Jakarta. Sabtu (11/4/2026). Terkini, Pramono bicara soal gaya kepemimpinannya di Jakarta, saat membuja Jakarta Future Festival, Jumat (5/6/2026). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap prinsip kepemimpinan yang selama ini ia pegang dalam menjalankan roda pemerintahan ibu kota. Bagi Pramono, seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai menyusun gagasan besar atau "melukis langit", tetapi harus mampu menerjemahkannya menjadi program yang nyata dirasakan masyarakat.

Hal itu disampaikan Pramono saat berbicara mengenai gaya kepemimpinannya di Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).

Ia menegaskan, ukuran utama seorang pemimpin adalah kemampuan mengeksekusi dan menghasilkan keputusan.

"Yang paling fundamental bagi saya deliver. Banyak pemimpin yang bisa menggambar langit tapi tidak bisa menciptakan konkret bagaimana di daratan," kata Pramono.

Politikus senior PDIP itu mengungkapkan bagaimana cara dirinya memimpin Jakarta dari meja rapat.

Pramono punya sikap, setiap persoalan yang dibahas dalam rapat harus berujung pada keputusan.

Baginya, baik atau buruk sebuah pilihan, yang terpenting adalah adanya keberanian mengambil keputusan untuk kemudian dievaluasi jika diperlukan.

"Saya adalah semua hal yang kita bahas di dalam rapat harus diputuskan. Baik buruk harus diputuskan. Baik buruk harus ada hasilnya," ujarnya.

Pramono mengakui tidak semua keputusan yang diambil akan selalu benar. Namun, ia menilai koreksi merupakan bagian dari proses pemerintahan selama prinsip dasar kebijakan tetap dijaga.

"Maka kemudian dalam keputusan itu tidak semuanya pasti benar. Kalau perlu dilakukan koreksi boleh dilakukan koreksi. Tetapi yang prinsip tidak boleh dirubah," katanya.

Taman Bendera Pusaka

Dalam kesempatan itu, Pramono juga menyinggung kondisi keuangan Jakarta yang mengalami pengurangan Dana Bagi Hasil (DBH) hingga Rp15 triliun. Meski demikian, ia mengaku tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk mengurangi pembangunan.

"Walaupun dana bagi hasil atau DBH Jakarta dipotong Rp15 triliun, saya tidak pernah mengeluh. Saya tetap membangun Jakarta dengan apa yang kita miliki," ucapnya.

Ia mengatakan pembangunan Jakarta saat ini juga mengandalkan kolaborasi dan partisipasi berbagai pihak, bukan semata-mata mengandalkan APBD.

Sebagai contoh, Pramono menyinggung keberadaan Taman Bendera Pusaka yang kini menjadi salah satu ruang publik favorit warga Jakarta.

"Bahkan Taman Bendera Pusaka yang sekarang dinikmati oleh banyak orang itu 100 persen tidak dibangun dari APBD," katanya.

Pembangunan Bawah Tanah Bundaran HI

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved