Info Kesehatan

Waspada, Memakan Kentang yang Ditaruh dalam Kulkas Berisiko Terkena Kanker

Kita mungkin pernah berpikir, makanan yang disimpan dalam kulkas tidak mudah busuk dan lebih tahan lama. Namun hal itu tak berlaku pada kentang.

Editor: Erlina Fury Santika
StartupBiz Global
Ilustrasi 

TRIBUNJAKARTA.COM - Menyimpan bahan makanan yang tersisa dalam kulkas selalu menjadi solusi yang amat membantu, bukan begitu?

Kita mungkin pernah berpikir, makanan yang disimpan dalam kulkas tidak mudah busuk dan lebih tahan lama.

Nyatanya, tak semua bahan makanan terjaga kualitasnya ketika disimpan dalam kulkas, salah satunya kentang.

Bahkan, menyimpan kentang dalam kulkas bisa meningkatkan risiko kanker.

Laman Reader's Diggest dalam artikelnya menyebut, suhu lemari es yang lebih dingin dapat mengubah pati dalam kentang menjadi gula.

Menurut American Cancer Society, ketika kita menggoreng atau memanggangnya di atas suhu 250 derajat celcius, gula tersebut akan melebur dengan asam amino asparagin.

Lalu, pembakaran itu akan menghasilkan zat kimia yang disebut akrilamida.

National Cancer Institute menyebut akrilamida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membuat kertas, pewarna, dan plastik.

Bahkan, senyawa ini bisa juga dipakai untuk menjernihkan air dan limbah.

Hal utama yang membuat orang terpapar akrilamida adalah merokok.

Tapi, ini juga bisa ditemukan dalam makanan seperti kentang goreng dan keripik kentang.

Juga, ada material serupa dalam produk kerupuk, roti, kue, sereal, dan kopi.

Riset yang memakai tikus sebagai subjek penelitian membuktikan, senyawa kimia ini meningkatkan risiko kanker pada subjek.

Tak Hanya Mengandung Karbohidrat, Kentang Juga Ampuh Turunkan Risiko Serangan Jantung

Cocok Disandingkan dengan Kopi, Coba Camilan Sosis Kentang di Kafe Ini

Simak Cara Hilangkan Kantung Mata dan Bintik Hitam yang Ada di Wajahmu dengan Mentimun dan Kentang

Sayangnya, riset pada manusia belum menunjukkan bukti yang konsisten paparan akrilamida melalui diet, bisa meningkatkan risiko serupa.

Tapi, ada hasil yang beragam pada ginjal, endometrium, dan kanker ovarium.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved