Ramadan 2026

Umarulfaruq Abubakar: Dari Lantai Masjid ke Mimbar Dakwah

P erjalanan menuju mimbar dakwah tidaklah singkat. Umarulfaruq Abubakar pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan.

Tribun-Video.com/ Faiz
KIAI UMARULFARUQ - Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I. Kini, ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia, saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Perjalanan menuju mimbar dakwah tidaklah singkat. Umarulfaruq Abubakar pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.

Dari sebuah desa kecil di Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, langkah seorang anak lelaki dimulai. Di kampung yang tenang itu, cahaya Ramadhan selalu datang dengan cara yang istimewa. 

Lampu-lampu minyak dinyalakan pada tiga malam terakhir bulan suci dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkelip di sepanjang jalan, seolah menjadi penanda harapan.

Anak itu bernama Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I. Kini, ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia. Namun, perjalanan menuju mimbar dakwah tidaklah singkat. Ia pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.

Cahaya dari Kampung Halaman

Masa kecil Umar dihabiskan di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas. Lantunan Ayat Suci dan nasihat para guru menjadi irama keseharian.

“(Masa kecil) dihabiskan di Gorontalo sampai SMA, baru berangkat ke Mesir,” ujar Umarulfaruq saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026).

Tradisi Tumbilotohe menjadi kenangan yang selalu ia bawa. Pada malam ke-27 Ramadan, meski telah jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu sebagai simbol harapan. Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil.

Mimpi ke Negeri Para Ulama

Di pesantren, Umar kecil bertemu sejumlah guru dari Mesir. Salah satunya adalah Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Suatu hari, ketika usianya sekitar 12 tahun, sang syekh berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.”

Kalimat itu terpatri kuat. Terlebih, ayahnya pernah memiliki mimpi yang sama, tetapi terhalang biaya. Mimpi itu kemudian menjadi amanah keluarga.

Tujuh tahun berselang, ia benar-benar berangkat ke Mesir pada 2003. Pertemuan kembali dengan sang guru menjadi momen haru sekaligus awal ujian perantauan. Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu ia ingat, agar tidak menangis supaya tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tujuh Lebaran Tanpa Pelukan

Hidup di Mesir bukan perkara mudah. Selama tujuh kali Idulfitri, ia tidak dapat pulang. Komunikasi dengan keluarga masih melalui surat yang balasannya bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Untuk mencukupi kebutuhan, ia bekerja sambil belajar. Ia menjadi petugas kebersihan, membantu pekerjaan di masjid, serta menerjemahkan buku. Semua dilakukan agar tetap dapat bertahan dan melanjutkan studi

“Pengalaman itu membentuk pikiran dan perasaan,” ujarnya.

Ujian terberat datang pada 2005. Dua tahun setelah keberangkatannya, sang ayah wafat. Ia masih mengingat pesan terakhir yang diterimanya, “Selamat belajar, Nak.” Keesokan harinya, kabar duka itu datang. Ia ingin pulang, tetapi terkendala visa dan biaya.

Sejak saat itu, Ramadhan, rindu, dan kehilangan menjadi bagian dari proses pendewasaannya.

Sumber: Tribun Solo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved