Ramadan 2026
Gus Yusron: Ramadan Momen Tahu Batas dan Merasa Cukup
Pengasuh Pesantren Al-Hikam II Depok, Gus Yusron Shidqi sampaikan Ramadhan bukan sekadar menahan dahaga dan lapar, tapi momen belajar tahu batas.
Muhammad Agus, Mahasiswa STKQ Pesantren Al-Hikam II Depok
TRIBUNJAKARTA.COM, DEPOK - Pengasuh Pesantren Al-Hikam II Depok, Gus Yusron Shidqi menyampaikan Ramadhan bukan sekadar latihan menahan dahaga dan lapar, tapi momen yang tepat untuk belajar tahu batas dan menumbuhkan rasa cukup menjalani hidup.
Demikian disampaikan Gus Yusron saat menyampaikan ceramah Tarawih di Masjid Al-Hikam Depok, Jawa Barat, Rabu (18/2/2026) malam.
"Jadilah pribadi yang sederhana, yang memahami batas-batas Allah dan Rasul-Nya. Karena sejatinya, kebahagiaan bukan pada banyaknya yang kita miliki, tetapi pada hati yang mampu berkata cukup,” ujar Gus Yusron.
Gus Yusron mengingatkan, saat ini dunia seakan-akan sudah menjadi ruang tanpa pagar, semuanya bisa diakses, bisa dilihat, dan bisa dikomentari.
Oleh karenanya, Ramadhan hadir sebagai madrasah ruhani yang bisa dijadikan momen untuk rehat sejenak dari keinginan yang tak berujung. Di bulan ini, umat Islam dilatih menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan merasakan makna kesederhanaan.
“Kadang, segelas air saat berbuka di bulan Ramadhan terasa begitu nikmat dan membahagiakan. Padahal di luar Ramadhan, minuman mahal pun belum tentu menghadirkan rasa senang yang sama,” ia menambahkan.
Putra bungsu KH Hasyim Muzadi ini menjabarkan soal tahu batas dengan menggambarkan kisah keteladanan khalifah Umar bin Khattab dalam menegakkan batas-batas syariat.
Kata dia, suatu malam Sayyidina Umar mendapati seorang warganya tengah meminum khamar atau arak di dalam rumahnya. Sayyidina Umar langsung masuk menegurnya.
Alih-alih tersadar, orang tersebut balik mengingatkan Sayyidina Umar sebagai pemimpin kaum Muslimin, bahwa diriya telah melakukan beberapa pelanggaran dan telah melampaui batas.
Orang tersebut menjabarkan pelanggaran Sayyidina Umar, di antaranya memata-matai, mengintip tanpa izin, dan masuk ke rumah tanpa salam.
Mendengar ucapan orang tersebut, Sayyidina Umar tersadar. Ia mengakui kesalahannya dan tidak melanjutkan penindakan saat itu.
Menurut Gus Yusron, kisah tersebut menunjukkan dalam menegakkan kebenaran, seorang pemimpin tetap terikat oleh batas-batas yang Allah tetapkan. Tidak boleh melanggar aturan dengan alasan apa pun, sekalipun untuk memberantas kemungkaran.
BERITA TERKAIT
- Baca juga: Aturan Baru Pemprov DKI Selama Ramadan 2026, Jam Pulang Sekolah Maksimal Pukul 14.00 WIB
- Baca juga: KH M Cholil Nafis: Ramadan Bukan Beban, Tapi Momentum Keintiman dengan Allah
- Baca juga: Ketua MUI KH Cholil Nafis Kaget Masih Banyak Pengikut NII, Ada Penyuluh Agama Ikut Gabung
Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/RAMADAN-MOMEN-TAHU-DIRI-Pengasuh-Pesantren-Al-Hikam-II-Depok-Gus-Yusron-Shidqi.jpg)