Pengamat Sebut Pemerintahan Jokowi dan Prabowo Bak 'Roller Coaster', Ada Kerinduan Akan Era SBY

Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai dinamika kepemimpinan nasional dalam lebih dari satu dekade terakhir cenderung fluktuatif.

Tayang:
Sekretariat Presiden
PRABOWO-JOKOWI-SBY - Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden RI ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyomo (SBY), Presiden ke-7 RI Joko Widodo jelang peluncuran BPI Danantara di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/2/2025).(Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden) 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai dinamika kepemimpinan nasional dalam lebih dari satu dekade terakhir cenderung fluktuatif layaknya “roller coaster”.

Ia merujuk pada periode pemerintahan Presiden ke-7 RI Jokowi selama dua periode yang kemudian dilanjutkan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menurutnya menghadirkan gaya kepemimpinan populis dengan ritme kebijakan yang naik-turun.

“Dalam 10 tahun Jokowi dan satu tahun Prabowo ini terasa seperti ‘dung dang dung dang’, ada dinamika yang cukup terasa,” kata Yunarto dalam podcast Gercep (Gerak Cerita Politik) di Youtube @HarianKompasCetak, tayang perdana pada Selasa (24/3/2026).

Menurutnya, dinamika tersebut memunculkan kecenderungan di sebagian masyarakat yang mulai menginginkan stabilitas dalam kepemimpinan nasional.

Yunarto menyebut, ada kerinduan terhadap model kepemimpinan yang lebih sistematis dan minim gejolak, seperti yang dianggap pernah hadir di era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Sebagian orang mulai berpikir, cari yang ‘proper’ saja, yang bekerja by system, mungkin terasa pelan tapi tidak menimbulkan guncangan besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam konteks tersebut, kepemimpinan SBY dinilai memberikan kestabilan, meskipun kerap dikritik karena dianggap lamban.

“Orang mulai agak merindukan SBY. Minimal enggak ada, 'polisi tidurnya' dikit gitu ya selama kepemimpinannya gitu kan, walaupun terasa agak lamban, kritik sebagian orang,” kata Yunarto.

Fenomena ini, lanjut dia, berpotensi menguntungkan figur seperti Ketua Umum Demokrat yang juga sulung dari SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Menurut Yunarto, faktor historis dan emosional pemilih terhadap era kepemimpinan SBY bisa menjadi modal politik tersendiri bagi AHY dalam kontestasi Pilpres 2029.

“AHY punya keuntungan karena ada asosiasi dengan kepemimpinan SBY yang dianggap stabil,” ujarnya.

Meski begitu, Yunarto mengingatkan bahwa peluang tersebut sangat bergantung pada keberanian politik Partai Demokrat dalam menentukan posisi.

Ia menilai, karakter politik SBY cenderung berhati-hati dan baru akan mengambil langkah berbeda jika situasi benar-benar aman.

“SBY biasanya realistis. Kalau situasinya belum benar-benar memungkinkan, kemungkinan besar tetap akan mengambil posisi aman,” katanya.

Dengan demikian, Yunarto melihat skenario paling realistis bagi AHY dalam waktu dekat adalah tetap berada di lingkar kekuasaan, dan bisa saja menjadi cawapres pendamping Prabowo.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved