Kepemimpinan Instan dan Urgensi Komunikasi Dua Arah

Pemimpin tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar, merefleksikan kritik, dan mengelola perbedaan secara etis.

Surya/Ahmad Zaimul Haq
PRAMUKA JAWA TIMUR - Atraksi Satuan Karya Pramuka usai Upacara Hari Pramuka ke-58 di halaman Gedung Grahadi, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (14/8/2019). Simak inilah sejarah Hari Pramuka yang diperingati pada tanggal 14 Agustus setiap tahunnya. 

Penulis: Ike Oktaviani (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi - Universitas Paramadina)

Ike Oktaviani
Ike Oktaviani, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi - Universitas Paramadina

TRIBUNJAKARTA.COM - Generasi Z hadir sebagai aktor utama dalam lanskap sosial, politik, dan organisasi masa depan. Tumbuh di era digital yang serba cepat, generasi ini dikenal adaptif, kritis, dan memiliki keberanian mengekspresikan pendapat di ruang publik.

Namun, karakter tersebut juga membawa paradoks. Di tengah banjir informasi dan budaya komunikasi instan, kepemimpinan kerap direduksi menjadi persoalan visibilitas, popularitas, dan performativitas di media sosial Fenomena ini memunculkan kepemimpinan yang reaktif, minim refleksi, serta miskin dialog. 

Tantangan terbesar bukan pada kurangnya suara, melainkan pada minimnya kemampuan mendengar dan membangun pemahaman bersama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama kepemimpinan generasi muda bukan terletak pada keberanian untuk berbicara, melahirkan pada absennya ruang pembelajaran yang secara sistematis melatih proses mendengar, berdialog dan merefleksikan perbedaan. 

Kepemimpinan yang matang membutuhkan arena sosial yang memungkinkan individu mengalami langsung dinamika komunikasi dua arah, pengambilan keputusan bersama, serta konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat.

Dalam konteks inilah, Gerakan Pramuka menemukan relevansi strategisnya. Selama ini, Pramuka kerap dipandang sebagai organisasi yang konvensional dan kurang selaras dengan karakter Generasi Z. Persepsi tersebut tidak sepenuhnya keliru jika Pramuka hanya dilihat dari simbol dan ritual formalnya Namun, jika dianalisis dari perspektif komunikasi dan kepemimpinan, Pramuka justru menawarkan model pembelajaran yang kritis terhadap budaya kepemimpinan instan yang berkembang di ruang digital.

Pramuka mengajarkan kepemimpinan sebagai proses sosial yang dibangun melalui relasi, pengalaman, dan komunikasi berkelanjutan. Kepemimpinan tidak hadir dalam ruang kosong, tetapi lahir dari interaksi antarindividu yang saling memengaruhi.

Kepemimpinan Instan

Relevansi kepemimpinan dialogis dengan kepemimpinan instan yang dilakukan pada pemimpin dari kalangan generasi Z. Dalam figur Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, Misalnya. Meskipun secara demografis termasuk generasi milenial, gaya kepemimpinan dan komunikasinya kerap diasosiasikan dengan karakter Generasi Z. 

Gibran dikenal menggunakan bahasa yang sederhana, langsung, dan minim jarak hierarkis dalam berkomunikasi dengan publik. Pendekatan ini menunjukkan upaya membangun komunikasi yang lebih simetris dan partisipatif, terutama dalam menjangkau generasi muda.

Dalam berbagai kesempatan, Gibran menampilkan gaya komunikasi yang terbuka terhadap kritik dan respons publik, khususnya melalui media digital. Alih-alih membangun citra kepemimpinan yang elitis, ia memilih pendekatan yang membumi dan dialogis. Pola ini sejalan dengan prinsip two-way symmetrical communication, di mana pemimpin tidak hanya memproduksi pesan, tetapi juga mengelola umpan balik sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Kepemimpinan tidak diposisikan sebagai monolog kekuasaan, melainkan dialog sosial.

Pendekatan komunikasi semacam ini menjadi krusial di tengah kecenderungan Generasi Z yang kritis terhadap otoritas formal. Kepemimpinan yang tidak membuka ruang dialog cenderung ditinggalkan atau dilawan. Dalam konteks ini, nilai-nilai kepemimpinan Pramuka menemukan relevansinya.

Pramuka mengajarkan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak lahir dari jabatan, melainkan dari kepercayaan yang dibangun melalui komunikasi yang adil dan terbuka. Lebih jauh, Pramuka juga menanamkan etika komunikasi yang menjadi semakin krusial di era disinformasi. Anggota dilatih untuk berbicara secara bertanggung jawab, mempertimbangkan dampak pesan, serta menghargai proses klarifikasi. Nilai ini selaras dengan prinsip komunikasi simetris yang menolak manipulasi dan dominasi pesan.

Kepemimpinan yang dibentuk tidak berorientasi pada kemenangan simbolik, tetapi
pada pencapaian tujuan kolektif. Dalam konteks Generasi Z, pendekatan ini menjadi penting karena mereka hidup di ruang sosial yang penuh fragmentasi opini. Tanpa kemampuan komunikasi dialogis, keberanian berbicara justru berpotensi memperdalam polarisasi. Pramuka menghadirkan ruang aman untuk belajar mengelola konflik, menerima perbedaan, dan mencari titik temu melalui komunikasi terbuka. Ini merupakan kompetensi kepemimpinan yang jarang diperoleh melalui interaksi digital semata.

Namun demikian, relevansi Pramuka tidak boleh dipahami secara romantis. Tantangan adaptasi tetap nyata. Agar mampu menjangkau Generasi Z secara lebih luas, Pramuka perlu mereinterpretasi metodenya tanpa mengorbankan nilai. Integrasi teknologi digital, diskusi isu-isu kontemporer, serta proyek sosial berbasis komunitas dapat menjadi medium baru untuk menerapkan two-way symmetrical communication secara lebih kontekstual. Esensi Pramuka bukan pada format kegiatan, melainkan pada proses komunikasi yang membentuk kepemimpinan dialogis.

Urgensi Komunikasi Dua Arah

Dalam kajian komunikasi, kepemimpinan dialogis menemukan pijakan teoritisnya pada konsep two-way symmetrical communication yang dikembangkan oleh James E. Grunig dan Todd Hunt. Model ini menempatkan komunikasi sebagai proses timbal balik yang berorientasi pada saling pengertian, bukan sekadar penyampaian pesan atau pengelolaan citra. Hubungan antara pemimpin dan anggota dibangun melalui dialog, negosiasi makna, serta kesediaan untuk menyesuaikan sikap dan keputusan berdasarkan umpan balik.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved