Ramadan 2026

Jadwal Imsakiyah dan Azan Magrib Ramadan 2026 untuk Jakarta dan Sekitarnya

Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI rilis jadwal imsakiyah dan azan Magrib untuk kota seluruh Indonesia, termasuk DKI Jakarta.

Tayang:
Editor: Y Gustaman

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama menetapkan awal puasa 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasar hasil sidang isbat pada Selasa (17/2/2026).

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama pun telah merilis jadwal imsakiyah di seluruh kota di Indonesia. Selain jadwal imsakiyah DKI Jakarta dan sekitarnya, ada jadwal sholat lima waktu dan azan Magrib selama Ramadhan.

Berikut jadwal imsakiyah Ramadan 2026, jadwal sholat Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya untuk Kota Jakarta dilansir dari Tribunnews.com bersumber dari Bimas Islam Kementerian Agama RI :

Tanggal Imsak Subuh Zuhur Ashar Magrib Isya
Kamis, 19 Februari 04.31 04.41 12.10 15.20 18.18 19.28
Jumat, 20 Februari 04.32 04.42 12.10 15.19 18.18 19.28
Sabtu, 21 Februari 04.32 04.42 12.10 15.19 18.17 19.27
Minggu, 22 Februari 04.32 04.42 12.10 15.18 18.17 19.27
Senin, 23 Februari 04.32 04.42 12.10 15.17 18.17 19.26
Selasa, 24 Februari 04.32 04.42 12.09 15.16 18.17 19.26
Rabu, 25 Februari 04.32 04.42 12.09 15.15 18.16 19.26
Kamis, 26 Februari 04.32 04.42 12.09 15.15 18.16 19.25
Jumat, 27 Februari 04.33 04.43 12.09 15.14 18.16 19.25
Sabtu, 28 Februari 04.33 04.43 12.09 15.13 18.15 19.24
Minggu, 1 Maret 04.33 04.43 12.09 15.12 18.15 19.24
Senin, 2 Maret 04.33 04.43 12.08 15.11 18.14 19.24
Selasa, 3 Maret 04.33 04.43 12.08 15.10 18.14 19.23
Rabu, 4 Maret 04.33 04.43 12.08 15.09 18.14 19.23
Kamis, 5 Maret 04.33 04.43 12.08 15.08 18.13 19.22
Jumat, 6 Maret 04.33 04.43 12.07 15.08 18.13 19.22
Sabtu, 7 Maret 04.33 04.43 12.07 15.09 18.12 19.21
Minggu, 8 Maret 04.33 04.43 12.07 15.09 18.12 19.21
Senin, 9 Maret 04.33 04.43 12.07 15.10 18.12 19.20
Selasa, 10 Maret 04.33 04.43 12.06 15.10 18.11 19.20
Rabu, 11 Maret 04.33 04.43 12.06 15.10 18.11 19.19
Kamis, 12 Maret 04.33 04.43 12.06 15.11 18.10 19.19
Jumat, 13 Maret 04.33 04.43 12.06 15.11 18.10 19.18
Sabtu, 14 Maret 04.33 04.43 12.05 15.11 18.09 19.18
Minggu, 15 Maret 04.33 04.43 12.05 15.12 18.09 19.17
Senin, 16 Maret 04.33 04.43 12.05 15.12 18.09 19.17
Selasa, 17 Maret 04.32 04.42 12.05 15.12 18.08 19.16
Rabu, 18 Maret 04.32 04.42 12.04 15.12 18.08 19.16
Kamis, 19 Maret 04.32 04.42 12.04 15.13 18.07 19.16
Jumat, 20 Maret 04.32 04.42 12.04 15.13 18.07 19.16

 

Keutamaan Puasa Ramadan

Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis menjelaskan, Ramadan adalah bulan yang sangat dinantikan oleh orang-orang beriman. Datangnya bulan Ramadhan adalah kebahagiaan, karena itu umat Muslim mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyambut Ramadhan sejak dua bulan sebelumnya dengan doa yang kerap kita dengan: Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan. “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”

Inilah tanda kebahagiaan Nabi Muhammad menyambut Ramadhan. Bahkan, sebagian ulama salaf disebutkan telah mempersiapkan diri sejak enam bulan sebelumnya.

Mengapa Ramadhan begitu istimewa bagi orang beriman? Karena di bulan inilah terjadi keintiman yang luar biasa antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, bagi orang yang tidak beriman, Ramadhan justru terasa menakutkan.

Sebelum Ramadhan datang, mereka berkata, “Ayo kumpul-kumpul, makan-makan dulu sebelum siang hari tidak bisa makan.” Mereka menganggap seakan-akan Ramadhan adalah momok yang harus dihindari, karena selama sebulan penuh kaum Muslimin diwajibkan berpuasa.

Di sinilah Ramadhan menjadi ujian keimanan kita: apakah kita menyambutnya dengan bahagia, penuh suka cita, atau justru menganggapnya sebagai beban?

Keistimewaan Ramadan

Ia melanjutkan, keistimewaan Ramadhan bagi orang beriman yang pertama adalah kedekatan dan keintiman dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, keintiman yang tidak kita temukan dalam ibadah lainnya.

Allah berfirman dalam hadis qudsi, bahwa setiap amal anak Adam kembali kepada dirinya sendiri. Salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat kembali kepada kita dengan membersihkan harta dan menolong sesama. Haji pun memberikan manfaat rohani dan jasmani.

Namun puasa berbeda. Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Berapa balasannya? Tidak ada yang tahu. Allah memberikan balasan minimal sepuluh kali lipat, bisa tujuh ratus kali lipat, bahkan bisa lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana kemuliaan Lailatul Qadar.

Inilah makna berkah: bertambahnya kebaikan. Puasa menjadi ibadah yang sangat istimewa karena dilakukan secara rahasia. Ketika kita salat, orang lain melihat. Ketika zakat, orang lain tahu. Ketika haji, banyak orang terlibat. Tetapi puasa, tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Seseorang yang tidak berpuasa karena haid, nifas, atau sakit siapa yang tahu? Begitu juga orang yang berpuasa siapa yang tahu? Kecuali ia sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah keistimewaan puasa: hubungan langsung antara hamba dan Sang Pencipta.

Lebih istimewa lagi, ketika kita meninggalkan makanan dan minuman yang halal yang tersedia di rumah kita sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, semata-mata karena perintah Allah. Inilah bentuk ketundukan dan kedekatan kepada-Nya.

Ampunan Dosa

Selain pahala yang berlipat ganda, Ramadhan juga menghadirkan ampunan dosa. Ampunan adalah nikmat yang sangat berharga, karena setiap hari kita tidak lepas dari dosa apa yang kita lihat, dengar, ucapkan, bahkan dari aktivitas sederhana seperti bermedia sosial.

Ketika Allah mengampuni dosa-dosa kita, Allah juga memberkahi amal-amal kita. Umur kita terbatas rata-rata 60 hingga 70 tahun, namun dengan keberkahan Ramadhan, Allah melipatgandakan kebaikan sehingga kita bisa meraih pahala besar dalam waktu singkat.

Kiai Cholil mengajak umat Muslim memanfaatkan Ramadhan sebaik-baiknya. Di dalamnya ada salat malam berjamaah yang tidak ada di bulan lain, yaitu salat tarawih. Ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Karena itu kita dianjurkan memperbanyak salat, doa, dan membaca Al-Quran. Jika kita ingin berbicara kepada Allah, maka berdoalah. Jika kita ingin Allah berbicara kepada kita, maka bacalah Al-Quran.

Para ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’i, mengkhatamkan Al-Quran puluhan kali di bulan Ramadhan. Maka umat Muslim pun hendaknya memiliki target: berapa kali khatam, berapa banyak sedekah, dan seberapa besar peningkatan ibadah kita.

Ramadhan adalah kesempatan untuk meninggalkan hawa nafsu, mengasah spiritual, dan mendekatkan diri kepada Allah. Belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya, maka jangan sia-siakan kesempatan ini.

Isilah Ramadhan dengan ibadah, kurangi kesibukan duniawi yang tidak perlu, dan perbanyak mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dengan i’tikaf menjauh dari keramaian untuk berdiam di rumah Allah. Semoga Ramadhan ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, membersihkan jiwa dan raga, serta meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved