Ramadan 2026
Pesan Menag Nasaruddin Umar: Idul Fitri Momentum Kembali ke Fitrah
Idul Fitri bisa dimaknai sebagai kita mudik ke kampung halaman biologis kita. Kita kembali makan dan minum serta berhubungan suami istri.
Kembali Ke Firah
Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
TRIBUNJAKARTA.COM - Kenapa sering disebut Hari Raya Idul Fitri kembali ke fitrah? Sebetulnya tidak salah juga karena pasca Ramadan, seusai melakukan berbagai amaliah Ramadan.
Tuhan akan membersihkan diri seseorang dari berbagai dosa yang telah dilakukan di masa lampau.
Pada saatnya Dia mengembalikannya ke sebuah dunia baru, yang tak lain adalah dunia fithri yang pernah dilewati manusia di masa kecilnya.
Dalam kamus Lisan ‘Arab, kamus bahasa Arab terlengkap (15 jilid), fitrah (fithrah) berasal dari akar kata fathara–fathran, yang berarti membelah, merobek, tumbuh, dan berbuka.
Dari akar kata yang sama lahir kata fithrah, yang berarti sifat pembawaan sejak lahir, seperti dalam ayat: Fithrah Allah al-ladzi fathara al-nasa ‘alaiha (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu).
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum/30:30).
Kata Idul Fitri (‘id al-fithr) berarti kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuasa di siang hari bulan Ramadan.
Bisa juga berarti ‘id al-fithrah, kembali ke sifat bawaan kita sejak lahir, yaitu bersih dan suci, setelah sebulan penuh ditempa berbagai amalan Ramadan.
Dari pengertian ini dipahami bahwa yang bisa kembali ke fitrah ialah mereka yang telah melakukan berbagai macam upaya pembersihan dan penyucian diri melalui amaliah Ramadan, seperti puasa, zakat, qiyamullail, i’tikaf, dan berbagai amal sosial seperti sedekah, silaturahim, memberi buka puasa, dan lain sebagainya.
Idul Fitri bisa dimaknai sebagai kita mudik ke kampung halaman biologis kita. Kita kembali makan dan minum serta berhubungan suami istri.
Kita juga mudik ke kampung halaman tempat kelahiran kita, tempat di mana orang tua kita dimakamkan, tempat di mana kita pernah belajar pertama kali mengaji dan mengenal huruf, lalu kemudian kita merantau ke kota.
Sedangkan Idul Fitrah bisa dimaknai sebagai kita kembali ke jati diri kita yang paling orisinal dan genuine.