Ramadan 2026
KH M Cholil Nafis: Ramadan Bukan Beban, Tapi Momentum Keintiman dengan Allah
Bagi orang yang beriman, datangnya bulan Ramadan adalah kebahagiaan. Karena itu, mereka mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Mutiara Ramadan:
KH M Cholil Nafis, Ph.D - Wakil Ketua Umum MUI Periode 2025-2030
TRIBUNJAKARTA.COM - Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan yang sangat dinantikan oleh orang-orang beriman. Bagi orang yang beriman, datangnya bulan Ramadan adalah kebahagiaan. Karena itu, mereka mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyambut Ramadan sejak dua bulan sebelumnya dengan doa yang kita kenal:
Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadan.
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”
Inilah tanda kebahagiaan Nabi dalam menyambut Ramadan. Bahkan, sebagian ulama salaf disebutkan telah mempersiapkan diri sejak enam bulan sebelumnya.
Mengapa Ramadhan begitu istimewa bagi orang beriman? Karena di bulan inilah terjadi keintiman yang luar biasa antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, bagi orang yang tidak beriman, Ramadan justru terasa menakutkan.
Sebelum Ramadan datang, mereka berkata, “Ayo kumpul-kumpul, makan-makan dulu sebelum siang hari tidak bisa makan.”
Seakan-akan Ramadhan adalah momok yang harus dihindari, karena selama sebulan penuh kaum Muslimin diwajibkan berpuasa.
Di sinilah Ramadan menjadi ujian keimanan kita:
Apakah kita menyambutnya dengan bahagia, penuh suka cita, atau justru menganggapnya sebagai beban?
Jemaah rahimakumullah, pemirsa sekalian,
Keistimewaan Ramadhan bagi orang beriman yang pertama adalah kedekatan dan keintiman dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, keintiman yang tidak kita temukan dalam ibadah lainnya.
Allah berfirman dalam hadis qudsi, bahwa setiap amal anak Adam kembali kepada dirinya sendiri. Salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Zakat kembali kepada kita dengan membersihkan harta dan menolong sesama. Haji pun memberikan manfaat rohani dan jasmani.
Namun puasa berbeda. Allah berfirman:
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Berapa balasannya? Tidak ada yang tahu. Allah memberikan balasan minimal sepuluh kali lipat, bisa tujuh ratus kali lipat, bahkan bisa lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana kemuliaan Lailatul Qadar.
Inilah makna berkah: bertambahnya kebaikan. Puasa menjadi ibadah yang sangat istimewa karena dilakukan secara rahasia.
Ketika kita salat, orang lain melihat. Ketika zakat, orang lain tahu. Ketika haji, banyak orang terlibat. Tetapi puasa, tidak ada yang tahu kecuali Allah.
Seseorang yang tidak berpuasa karena haid, nifas, atau sakit siapa yang tahu? Begitu juga orang yang berpuasa siapa yang tahu? Kecuali ia sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah keistimewaan puasa: hubungan langsung antara hamba dan Sang Pencipta.
Lebih istimewa lagi, kita meninggalkan makanan dan minuman yang halal yang tersedia di rumah kita sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, semata-mata karena perintah Allah. Inilah bentuk ketundukan dan kedekatan kepada-Nya.
Selain pahala yang berlipat ganda, Ramadan juga menghadirkan ampunan dosa.
Ampunan adalah nikmat yang sangat berharga, karena setiap hari kita tidak lepas dari dosa apa yang kita lihat, dengar, ucapkan, bahkan dari aktivitas sederhana seperti bermedia sosial.
Ketika Allah mengampuni dosa-dosa kita, Allah juga memberkahi amal-amal kita.
Umur kita terbatas rata-rata 60 hingga 70 tahun, namun dengan keberkahan Ramadan, Allah melipatgandakan kebaikan sehingga kita bisa meraih pahala besar dalam waktu singkat.
Karena itu, mari kita manfaatkan Ramadan sebaik-baiknya.
Di dalamnya ada salat malam berjamaah yang tidak ada di bulan lain, yaitu salat tarawih. Ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
Perbanyaklah salat, perbanyaklah doa, dan perbanyaklah membaca Al-Quran.
Jika kita ingin berbicara kepada Allah, maka berdoalah. Jika kita ingin Allah berbicara kepada kita, maka bacalah Al-Quran.
Para ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’i, mengkhatamkan Al-Quran puluhan kali di bulan Ramadhan.
Maka kita pun hendaknya memiliki target: berapa kali khatam, berapa banyak sedekah, dan seberapa besar peningkatan ibadah kita.
Ramadan adalah kesempatan untuk meninggalkan hawa nafsu, mengasah spiritual, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya, maka jangan sia-siakan kesempatan ini.
Isilah Ramadan dengan ibadah, kurangi kesibukan duniawi yang tidak perlu, dan perbanyak mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dengan i’tikaf menjauh dari keramaian untuk berdiam di rumah Allah.
Semoga Ramadan ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, membersihkan jiwa dan raga, serta meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berita Terkait
- Baca juga: Masjid Fatahillah Balai Kota Bagi 100 Takjil Setiap Hari Selama Ramadan 2026, Cek di Sini Menunya!
- Baca juga: Ramadan 2026, Satpol PP Sisir Jakarta hingga Subuh Antisipasi SOTR dan Tawuran
- Baca juga: Awal Ramadan 2026, 3 Kecelakaan Terjadi di Jalan Tol: Truk Terlibat Tabrakan Beruntun
Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
| Arus Balik, 15 Bus Angkutan Malam Hari Disiagakan di Terminal Kampung Rambutan |
|
|---|
| Hari Kedua Lebaran 2026, Banjir Kepung Kampung Jati Jaktim, Warga Gagal Silaturahmi |
|
|---|
| Tradisi Idulfitri Warga Duta Kranji, Bersalaman di Jalan Bentuk Barisan Panjang |
|
|---|
| Jadwal Buka Puasa Jakarta di Hari Terakhir Ramadan, Jumat 20 Maret 2026: Azan Magrib Pukul 18.07 WIB |
|
|---|
| FOTO Jelang Lebaran, Pedagang Kulit Ketupat di Palmerah Kebanjiran Pembeli |
|
|---|