Begini Kisah Keturunan Sultan dari Madura yang Mendirikan Gereja Kristen Jawi Wetan di Jombang

Bahkan kalau ditelusur ke belakang, sambung Gardi, salah satu putra Pangeran Cokrokusumo, R Paing Wiryoguna adalah pendiri gereja tertua di Jawa

Begini Kisah Keturunan Sultan dari Madura yang Mendirikan Gereja Kristen Jawi Wetan di Jombang
Sutono
Sultan Hamid dari Bangkalan, keturunan ke-4 Pangeran Cokrokusumo, memainkan organ saat acara Halal Bihalal dan Reuni Akbar Keluarga Besar Cokrokusumo. 

Isteri Pangeran Cokrokusumo adalah Mbok Hanifah, keturunan R Haryo Pecat Tondoterung, senapati Majapahit abad 16-an dan menjadi bupati di Kabupaten Terung (kini Krian).

Mbok Hanafiah (yang setelah menjadi Kristen) berganti nama menjadi Dorkas Cokrokusumo memiliki 6 anak, bernama R Hanafiah, RA Kawista, R Paing Wiryoguno, R Samodin, R Ayu Bainah, R Baren.

Meski menjadi keluarga kaya, Kiai Mendung belum puas. Dia ingin memiliki tanah sendiri untuk kehidupan keturunannya yang lebih baik di kemudian hari.

Di antara enam anaknya, Raden Paing yang mewarisi sifat ayahnya, menyukai ilmu-ilmu kesaktian, ilmu kanuragan dengan cara berguru maupun bertapa.

Proses pencarian ngelmu batin dan kanuragan terus dilakukan dalam perjalanan hidup Paing. Dalam perjalanan batinnya dia mendapatkan pesan agar mencari ilmu baru bernama 'musqab gaib'.

Paing lantas bertemu dengan Sunan Kuning atau tuan Coolen pemilik persil Ngoro, Mojokerto. Setelah mendengar penjelasan dari tuan Coolen tentang ilmu baru itu, yang disebut Ngelmu Srani (agama Nasrani), Paing Wiryoguno mencari J Emde di Surabaya agar dia dan kerabat diperbolehkan menerima ilmu baru itu.

Paing Wiryoguno beserta sanak saudaranya akhirnya bisa menerima ilmu baru tersebut, dan dibaptis pada 13 April 1844 oleh Pdt van Meyer. Dalam permandian kudus ini, sambung Gardi, mereka diberi tambahan nama Kristen.

"Wiryoguno diberi nama Karolus, ibunya diberi nama Dorkas. Mertua laki-laki nama Sesar, kakak perempuannya nama Tabitah, adik-adiknya diberi nama Simson, Paulinah dan Elisa," imbuh Gardi.

Setelah itu dia menyampaikan keinginannya kepada Emde untuk menemui tuan Residen dan mengajukan permohonan izin membuka Hutan Keracil, wilayah Wirosobo (Mojoagung) dan , Japan (Mojokerto).

Singkatnya, babat hutan pun dilakukan dibantu Ditotruno dan Pak Kunto. Setelah hutan dibuka, bagian tanah selatan disebut Mojowarno untuk Ditotruno dan kawan-kawan, bagian sebelah utara disebut Mojowangi untuk Pak Eliasar Kunto, sedang Karolus membuka hutan baru sebelah timur sungai Jiken dan diberi nama Mojoroto.

Halaman
123
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved