Pilpres 2019

Peneliti: Pembicaraan Positif Jokowi-Ma'ruf Lebih Tinggi dari Prabowo-Sandi di Media Sosial

Volume percakapan seputar paslon Pilpres 2019 sangat besar dan mendominasi percakapan di medsos, melibatkan 55,620 akun dan 206,907 tweets dua kubu.

Peneliti: Pembicaraan Positif Jokowi-Ma'ruf Lebih Tinggi dari Prabowo-Sandi di Media Sosial
TRIBUN JOGJA/SULUH PAMUNGKAS
Calon presiden dan calon wakil presiden di Pilpres 2019. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penelitian We Are Social pada tahun 2018 menyebutkan, bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta.

Dari jumlah tersebut, 130 juta di antaranya tercatat aktif di Media Sosial.

Tingginya angka pengguna media sosial rentan disusupi isu-isu tak bertanggungjawab dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2019.

Apalagi tidak dipungkiri masing-masing capres-cawapres memiliki relawan siber.

Peneliti Media DGILab, Jeffry Dinomo menjelaskan, volume percakapan seputar paslon Pilpres 2019 sangat besar dan mendominasi percakapan di medsos, melibatkan 55,620 akun dan 206,907 tweets dari kedua kubu paslon.

"Jumlah akun dan tweets seputar paslon Jokowi-Ma’ruf lebih besar, yaitu sekitar 2,3 kali dari jumlah akun dan tweets seputar paslon Prabowo-Sandiaga," kata Jeffry dalam diskusi bertajuk Cerdas Bermedia Sosial dan peluncuran ForuMedsoSehat, Minggu (16/12/2018).

Menurutnya, secara keseluruhan, pembicaraan positif pada Jokowi-Maruf Amin lebih tinggi daripada Prabowo-Sandiaga.

"Sedangkan, untuk pembicaraan negatif kepada kedua paslon cenderung berimbang dan pembicaraan netral tentang Prabowo-Sandiagalebih tinggi dari Jokowi-Maruf Amin," katanya.

Dirinya menjelaskan, melihat dari perilaku interaksinya, dimana satu original post direspon rata-rata lebih banyak dari kluster pendukung paslon Prabowo-Sandiaga, dapat diindikasikan perilaku di kluster paslon Prabowo-Sandiaga terindikasi cyber troops.

"Sementara kluster pendukung paslon Jokowi-Ma’ruf terindikasi dukungan individu," katanya.

Yusril Tegaskan Tak Akan Sanksi Kader PBB Jika Berbeda Pilihan Capres

Jeffry menambahkan, pada kedua kluster pendukung dijumpai suspicious behavior karena cukup banyak ditemukan ditemukan partisipan yang berasal dari akun-akun yang jumlah follower di bawah 50 dan usia akun di bawah 6 bulan.

Beberapa di antaranya banyak yang baru lahir di bulan Desember. Terdapat 3.8 persen akun yang terlibat di kluster Jokowi-Ma’ruf dan terindikasi, sedangkan 4.9 persen akun yang terlibat di kluster Prabowo-Sandi yang terindikasi.

"Secara prosentase terhadap keterlibatan di masing-masing akun, kluster Prabowo-Sandi prosentase suspicious account lebih besar," katanya.

Dirinya menjelaskan, terdapat konten yang tidak berhubungan dengan percakapan di kedua kluster dari akun-akun tertentu yaitu terkait dengan konten pornografi, judi dan penjual online.

"Akun-akun tersebut biasanya masuk dalam percakapan yang sudah menjadi trending melalui tagar politik," katanya.

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved