Hero Bantah PHK Sepihak dan Lakukan Union Busting

Tony menyebut, hanya 43 pekerja yang masih belum menerima kondisi tersebut dan minta dipekerjakan kembali.

Hero Bantah PHK Sepihak dan Lakukan Union Busting
TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Corporate Affairs General Manager PT Hero Supermarket, Tony Mampuk kantor pusat Hero, di bilangan Bintaro sektor 7, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat (11/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, PONDOK AREN - PT Hero Supermarket melalui Corporate Affairs General Manager, Tony Mampuk, memberikan penjelasan terkait unjuk rasa besar-besaran dari Serikat Pekerja Hero Supermarket (SPHS) dan Asosiasi Pekerja (Aspek) Indonesia, Jumat (11/1/2019).

Bertempat di kantor pusat Hero, di bilangan Bintaro sektor 7, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Tony menjelaskan hal Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan pihaknya.

Tony menjelaskan, Hero menutup 26 tokonya di sejumlah tempat di Jawa dan Sumatera, jawa, dan mengakibatkan seluruh pekerjanya harus di-PHK.

Dari 26 toko itu, total 532 pekerjanya harus mengakhiri hubungan kerja.

Selain karena tutupnya toko, Tony juga menjelaskan, toko lain yang masih buka, kondisi posisi pekerjanya sudah terisi semua.

"Atas kondusi ini tokonya tutup dan tidak ada tempat untuk mereka bekerja lagi. Setiap toko lain yang kita punya juga sudah terisi bahkan beberapa sudah berlebih. Akhirnya kita mencoba menjelaskan kepada mereka, 92% dari 532 mereka memahami dan menyepakati pemutusan hubungan kerja," jelas Tony kepada awak media.

Tony menyebut, hanya 43 pekerja yang masih belum menerima kondisi tersebut dan minta dipekerjakan kembali.

Rampas Handphone Gunakan Celurit, Tiga Anak di Depok Terancam Hukuman 9 Tahun Penjara

Soal pesangon yang ia tidak sebutkan besarannya, juga dikatakan sudah disepakati dengan 92% pekerja yang di-PHK itu.

Terkait dugaan adanya union busting, atau upaya pemberangusan serikat pekerja yang dilakukan pihak manajemen, Tony juga membantahnya.

"Union busting, PT Hero Supermarket sudah memiliki serikat pekerja sejak 18 tahun yang lalu. Kalau kita ingin melakukan union busting mereka sudah tidak ada di sini," jelasnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved