Puluhan Tahun Tinggal Dekat TPA Burangkeng, Warga Tutut Kompensasi Uang Bau

Ditambah kata dia, keberadaan lalat yang terbilang cukup banyak sangat menggangu kenyamanan.

Puluhan Tahun Tinggal Dekat TPA Burangkeng, Warga Tutut Kompensasi Uang Bau
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BAHCTIAR
Gunungan sampah di TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar 

TRIBUNJAKARTA.COM, SETU - Warga Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, menuntut pemerintah daerah untuk memberikan perhatian lebih terkait dampak keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng. 

Pasalnya, puluhan tahun tinggal di dekat TPA, warga Desa Burangkeng tidak pernah mendapatkan apa-apa dari keberadaan TPA yang menjadi lokasi pembuangan sampah yang sudah ada sejak tajun 1980an. 

Abi (42) misalnya, warga asli Kampung Cinyosok, Desa Burangkeng mengaku, hidup dekat TPA membuatnya harus terbiasa dengan dampak pencemaran lingkungan yang terjadi di wilayah tempat tinggalnya. 

"Ya saya mah kalau dibilang bau mah ya bau ya, tapi mau gimana lagi, mau diatasin, diatasin gimana, paling tutup pintu masuk ke dalem udah," kata Abi, Kamis, (14/2/2019).

Abi menjelaskan, bau menyengat yang tercium di sekitar wilayah TPA Burangkeng kerap terjadi ketikan kondisi udara lembab atau musim hujan, ditambah saat proses penataan gunungan sampah. 

"Iya kalau musim ujan, terus kalau lagi diaduk-aduk sampahnya pakai beko itu udah pasti bau, makanya kalau mau nanya alamat kampung Cinyosok ikutin aja jalanan yang bau itu udah pasti sampe, soalnya kan truk sampah setiap lewat pasti ninggalin bau di jalan," jelas dia. 

Dampak paling dirasa akibat pencemaran lingkungan akibat tinggal di dekat TPA Burangkeng yakni masalah kesehatan.

Ditambah kata dia, keberadaan lalat yang terbilang cukup banyak sangat menggangu kenyamanan.

"Kalau mau masak kita juga harus hati-hati, misal masak ikan, gak bisa di taro gitu aja kalau abis goreng, pasti udah di lalerin, makanya saya jarang masak, paling masak nasi doang lauknya beli, atau bikin lauk dikit-dikit, gak banyak," jelas dia. 

Sejauh ini kata dia, warga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, pasalnya selama ini, warga tidak mendapatkan apapun selain bau dengan keberadaan TPA Burangkeng. Perhatian lebih misalnya pemberian uang kompensasi bau. 

"Baunya mah ada tapi duitnya mah kaga, kaya warga Bantar Gebang (dekat TPST Bantar Gebang Kota Bekasi) aja pada dapet (kompensasi) padahal bau mah sama," jelas dia.

Sementara itu, Aep (47), warga Kampung Jati, Desa Burangkeng, mengatakan, masalah yang kerap ditimbulkan selain masalah dampak lingkungan yakin minimnya kontribusi pembangunan di Desa Burangkeng. 

Dia mencontohkan, jalan lingkungan yang menjadi akses utama truk sampah juga jarang dilakukan perbaikan secara rutin, fasilitas penerangan jalan juga tak kunjung dilengkapi.

"Sebelumnya sudah minta renovasi (jalan), tapi belum ada respon, warga dapet perhatian gak ada sama sekali, kita cuma minta sarpras (sarana dan prasarana) untuk lingkungan," jelas dia.

Aep menambahkan, pada Selasa, 13 Februari 2019 kemarin, sejumlah warga, mengelar aksi unjuk rasa dengan memblokade akses jalan menuju TPA Burangkeng.

Akibatnya, sejumlah truk sampah tertahan dan memilih untuk tidak melakukan aktivitas pembuangan sampah.

"Kita sudah bersurat ke Dians Lingkungan Hidup, ke Dinas Bina Marga, Bappeda, lalu ke Dinsos, tapi gak ada jawaban," jelas dia. 

Aksi penutupan jalan akhirnya dapat terselesaikan setelah perwakilan warga dan dinas terkait untuk melakukan mediasi. 

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved