Nutrisi dari Orphan Food Penting Bagi Anak Berpenyakit Langka

Indonesia masih hadapi tantangan malnutrisi ganda. Hal itu ditandai dengan 30,8% balita dengan kondisi stunting.

Nutrisi dari Orphan Food Penting Bagi Anak Berpenyakit Langka
TribunJakarta.com/Lita Febriani
Ketua Pusat Pelayanan Penyakit Langka RSCM DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K), Rabu (13/3/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Lita Febriani

TRIBUNJAKARTA.COM, SENEN - Indonesia masih hadapi tantangan malnutrisi ganda.

Hal itu ditandai dengan 30,8% balita dengan kondisi stunting.

Malnutrisi dapat dicegah bila pemenuhan asupan nutrisi harian kepada anak terpenuhi.

Terutama pada 1000 hari pertama kehidupan yang nantinya menentukan kondisi kesehatan mereka di masa depan.

"Dua tahun pertama kehidupan anak sangat berpengaruh pada pembetukan otaknya," tutur Ketua Pusat Pelayanan Penyakit Langka RSCM DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) di Gedung IMERI FK Universitas Indonesia, Rabu (13/3/2019).

Pemenuhan nutrisi tidak hanya diperlukan oleh anak-anak dengan kondisi normal namun juga anak-anak yang terlahir dengan kondisi penyakit langka.

RSCM bekerjasama dengan Human Genetic Research Cluster IMERI FK Universitas Indonesia mengedukasi kebutuhan orphan food dan pentingnya dukungan dari berbagai pihak untuk tumbuh kembang optimal dan masa depan anak dengan penyakit langka.

Orphan Food sendiri merupakan bagian dari pangan olahan / formula medis khusus untuk kondisi penyakit langka yang mencakup makanan, baik dalam bentuk cair atau padat, yang diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit langka.

RSCM Adakan Sosialisasi Hindari Malnutrisi pada Anak Berpenyakit Langka

Begini Peran dan Modus 2 WNI yang Tipu Warga Negara Mexico Saat Beli Alat Kesehatan Lewat Website

Baik sebagai satu-satunya sumber nutrisi maupun terapi pendukung.

"Sama seperti anak lainnya, anak dengan penyakit langka juga membutuhkan pemenuhan nutrisi sesuai kebutuhan masing-masing untuk mencegah malnutrisi atau bahkan kondisi stunting," terang Damayanti.

Menurut dokter di RSCM tersebut, walaupun anak memiliki penyakit langka bukan berarti kondisi kognitif anak menjadi nomor dua.

Penulis: Lita Febriani
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved